Senin, 27 Oktober 2008

Hikayat Karbala dari Tanah Melayu

Sebuah hikayat dari ranah kesusasteraan Melayu lama berkisah tentang peristiwa Karbala. Warisan budaya yang terlupakan.

Meski tampak lusuh, kitab itu tetap terawat. Beberapa bagian yang robek coba ditautkan dengan sejenis perekat. Tiap-tiap lembarnya menebarkan wangi kapur barus yang menjaganya dari kerusakan. Tersimpan dalam ruangan bersuhu 16°C, seperti juga kisah di dalamnya, Hikayat Muhammad Hanafiah, nama kitab itu, memang tak lekang oleh zaman.

Tak banyak orang tahu bahwa hikayat berusia hampir empat ratus tahun ini menyimpan kisah sedih keluarga Rasulullah saw: kisah pembunuhan Hasan karena racun dan Husain di padang Karbala. Boleh jadi inilah catatan paling awal dalam bahasa melayu tentang peristiwa berdarah tersebut. Liau Yock Fang dari Jurusan Pengajian Melayu, Universitas Nasional Singapura, mencatat bahwa fragmen (sepanjang 60 halaman) hikayat ini sudah tersimpan di Perpustakaan Universitas Cambridge, sejak tahun 1604. Dalam salah satu bagian naskah yang dimiliki Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), tertulis tahun tahun 1191 H atau bertepatan dengan 1771 M sebagai waktu penyalinan naskah.

PNRI memiliki sembilan naskah Hikayat Muhammad Hanafiah. Beberapa halaman dari tiga naskah di antaranya telah lapuk dan hampir tidak dapat dibaca. Selebihnya naskah dalam kondisi yang baik dan tulisan di dalamnya jelas terbaca. Kesembilan bagian naskah ditulis di atas kertas Eropa dengan ukuran naskah rata antara 25 X 20 cm sampai 33 X 21 cm dan banyak baris sekitar 15 sampai 21 baris. Jumlah halaman bervariasi dari 170-an halaman sampai ada yang berjumlah 600 halaman. Semuanya ditulis dengan tulisan Arab Jawi dan dalam bahasa Melayu.

Sebagian besar peneliti meyakini Hikayat Muhammad Hanafiah berasal dari sumber Arab. Tapi, Filolog tenar asal Belanda, Van Ronkel punya cerita lain. Setelah menyelediki fragmen Cambridge, Ronkel berpendapat bahwa hikayat ini merupakan terjemahan dari bahasa Persia. Alasannya, pujian yang melimpah kepada kedua putra Ali, Hasan, dan Husain, pemakaian gelar pengembara untuk Nabi saw yang dalam bahasa Persia adalah nabi, dan kesesuaian isinya dengan dua naskah versia Persia yang tersimpan di British Museum. L.F. Brakel yang pernah menyunting Hikayat Muhammad Hanafiah untuk memperoleh gelar doktor kesusasteraannya dari Universitas Leiden mengukuhkan pendapat Van Ronkel dengan beberapa bukti baru.

Pertama, bahwa pembagian bab dalam naskah Melayu sama dengan naskah Persia. Kedua, dalam bahasa Persia, hubungan kekerabatan dalam bahasa Arab pada nama Muhammad bin Hanafiah, dinyatakan oleh apa yang dinamakan ezafat:e ‘yang tidak dinyatakan’ sehingga menjadi Muhammad Hanafiah. Karena mengabaikan ezafat:e tadi, penyalin Melayu telah salah menuliskan nama tersebut, yakni Muhammad Hanafiah bukan Muhammad bin Hanafiah. Ketiga, banyak nama orang yang ditulis dalam bentuk Persia, seperti Ummi Kulsum dan Immi Salamah.

Meskipun demikian, Brakel juga tidak memungkiri kemungkinan hikayat ini merujuk kepada sebuah kitab sejarah dalam bahasa Arab, Maqtal al-Husain, karya Abu Mikhnaf. Karya Abu Mikhnaf ini merupakan catatan paling awal karena sebagian besar sejarahwan Muslim merujuknya ketika menulis tentang pembataian keluarga Nabi saw tersebut.

Tiap-tiap naskah Hikayat Muhammad Hanafiah berkisah tentang hal yang berbeda meskipun masih berikisar seputar terbunuhnya kedua cucu kesayangan Rasulullah tersebut. Naskah pertama paling banyak mengisahkan tentang gugurnya anak-anak Ali, seperti Hasan dan Husain di Karbala pada masa kekuasaan Yazid. Meskipun jelas, beberapa bagian tampak sudah lapuk dan robek. Isi naskah pertama ini sudah pernah ditransliterasi dan diberi penjelasan oleh seorang peneliti Belanda, Prof. Pijnappel pada 1870. Sayangnya PNRI tidak memiliki hasil penelitian itu.

Naskah kedua mengawali cerita dengan kisah nabi-nabi lama, mistik Nur Muhammad, kisah Fatimah dari Siria, masa muda Nabi Muhammad, pernikahan Nabi saw, hingga zaman Khalifah Ali. Naskah ketiga mengisahkan persahabatan Muhammad bin Hanafiah dengan beberapa orang. Ia mendapat luka dalam perang tetapi dengan keajaiban lukanya sembuh. Yazid dapat mengalahkan musuh-musuhnya lalu kemenakannya ditunjuk menjadi raja Damaskus dan kawin dengan cucu Abu Bakar. Akhirnya Muhammad Hanafiah berhasil mengalahkan musuh-musuhnya seorang diri.

Berbeda dengan naskah-naskah yang lain, naskah keempat Hikayat Muhammad Hanafiah yang dimiliki PNRI memiliki cerita yang sangat berbelit-belit. Selain itu, bahasanya pun sukar dipahami. Naskah kelima merupakan bagian terpanjang, yakni mencapai 600 halaman. Tebalnya naskah ini, salah satunya, disebabkan oleh hurufnya yang sangat besar. Satu hal lagi, selain naskah keenam, yang kelima ini merupakan bagian yang memuat waktu penyalinan dengan lengkap, yaitu 11 Rabi’ul Awwal 1288 H.

Naskah yang keenam yang bertanggal 6 Sya’ban 1281 H ini memuat kisah kematian Yazid pada bab III, tetapi di dalamnya, tidak diceritakan kemenangan Muhammad bin Hanafiah yang banyak dibicarakan dalam naskah-naskah lain. Naskah ketujuh merupakan sebuah eksemplar yang baik meski sebagian rusak. Naskah ini mengisahkan tentang perikehidupan Nabi saw secara panjang lebar.

Naskah kedelapan dimulai dengan uraian tentang kewajiban-kewajiban bagi para pengikut Nabi saw, sementara kelahiran Hasan dan Husain baru terdapat pada halaman 88. Naskah terakhir memuat cerita peperangan antara Ali dengan Muawiyah, pembunuhan Hasan dengan racun dan Husain di padang Karbala oleh Yazid. Kemudian dilanjutkan dengan pembalasan dari Muhammad bin Hanafiah kepada Yazid. Yazid dapat dikalahkan tetapi Muhammad bin Hanafiah malang juga nasibnya. Ia mati bersama musuh-musuhnya dalam sebuah gua.

Dengan kandungan yang sarat nilai, naskah-naskah Hikayat Muhammad Hanafiah jelas sangat berharga untuk diteliti. Tetapi penelitian filologi yang menuntut keahlian interdisiplin tampaknya kurang diminati para peneliti dan mahasiswa kita. Justru peneliti asing yang banyak meneliti-meneliti naskah-naskah tersebut. Ibarat peribahasa “kacang lupa akan kulitnya”, kita kerap memandang sebelah mata terhadap warisan budaya nenek moyang. [irman abdurrahman]

Dan Muawiyah pun Menolak Beristri

Dari banyak kisah yang dituturkan dalam Hikayat Muhammad Hanafiah, peristiwa Karbala, termasuk cerita yang mengawali dan mengikutinya, paling banyak menyita halaman dari hikayat ini.

Bagian kedua ini biasa disebut dengan Hikayat Maktal Husain. Berikut petikannya yang sengaja ditransliterasi sesuai ragam bahasa aslinya.

Tatkala Husain masih muda, ada malaikat yang kedua sayapnya tertunu, turun ke dunia. Husain menyapu bahu malaikat itu dengan tangannya. Dengan takdir Allah, sayap malaikat itu pun baik lalu ia kembali ke udara. Jibrail berkata bahwa malaikat itu tidak akan turun ke bumi melainkan pada waktu Husain dibunuh oleh segala munafik. Adapun semasa Hasan dan Husain masih kecil itu, Jibrail selalu turun ke dunia bermain-main dengan mereka. Sekali peristiwa, sehari sebelum hari raya, Jibrail membawa pakaian untuk Hasan dan Husain. Hasan memilih pakaian hijau dan diramalkan akan mati kena racun; Husain memilih pakaian merah dan diramalkan mati terbunuh di Padang Karbala. Muawiyah mendengar bahwa dari keturunannya akan lahir pembunuh cucu Muhammad dan bersumpah tidak mau beristeri. Pada suatu malam, ia pergi buang air dan beristinjak dengan batu. Zakarnya disengat oleh kala. Ia tidak terderita sakitnya. Menurut tabib, sakitnya hanya akan hilang jika ia berkawin. Maka berkawinlah ia dengan seorang perempuan tua yang tidak boleh beranak lagi. Dengan takdir Allah, perempuan tua itu melahirkan seorang anak yang diberi nama Yazid.

Setelah Ali wafat, Muawiyah menjadi raja. Sekali peristiwa, Muawiyah mengirim seorang utusan pergi meminang Zainab, anak Jafar Taiyar untuk menjadi isteri anaknya, yaitu Yazid. Zaainab menolak pinangan Yazid, tetapi menerima pinangan Amir Hasan. Karena itu Yazid pun berdendam dalam hatinya, hendak membunuh Amir Hasan dan Amir Husain, bila ia naik kerajaan. Sekali peristiwa, Yazid ingin berkawin dengan isteri Abdullah Zubair yang sangat baik parasnya. Muawiyah berja menipu Abdullah Zubair menceraikan isterinya. Isteri Abdullah Zubair tiada mau menjadi isteri Yazid. Sebaiknya, isteri Abdullah Zubair itu berkawin dengan Amir Husain. Yazid makin berdendam dalam hatinya, “Jika aku kerajaan, yang Hasan dan Husain itu kubunuh juga, maka puas hatiku.”

Maka berapa lamanya, Muawiyah pun matilah dan kerajaan pun jatuh ke tangan Yazid. Mulailah Yazid melaksanakan niatnya untuk membunuh Amir Hasan dan Amir Husain. Ia berhasil memujuk seorang hulubalang di Madinah (menurut suatu cerita, salah seorang isteri Hasan sendiri) meracuni Hasan. Setelah Hasan wafat, pikirannya tidak lain daripada membunuh Husain saja. Ia mengirim surat kepada Utbah, seorang hulubalang di Madinah, dan memintanya membunuh Husain dengan menjanjikan harta dan anugerah. Seorang hulubalang yang bernama Umar Saad Malsum juga dikirim untuk membunuh Utbah. Biarpun begitu, Utbah masih tidak berani membunuh Husain. Katanya jika Husain ada di dalam Madinah, mereka tidak dapat mengalahkannya. Karena itu mereka meminta raja Kufah, Ubaidullah Ziyad namanya, supaya menipu Husain ke Kufah. Husain menerima jemputan raja Kufah untuk pergi ke Kufah. Ummi Salamah mengingatkan Husain tentang bahaya yang mengancamnya. Pada malam itu Husain juga bermimpi berjumpa dengan segala nabi dan malaikat. Nabi Muhammad memberitahu bahwa surga sudah berhias menantikan ketibaannya. Sungguhpun begitu, Husain berangkat juga ke Kufah bersama-sama dengan pengikutnya yang tidak banyak itu.

Hatta berapa lamanya sampailah mereka ke suatu tempat. Unta dan kuda Husain merebahkan dirinya, tiada mau berjalan lagi. Mereka lalu mendirikan kemah di situ. Adapun segala kayu yang mereka tetak, berdarah balak. Baharulah mereka ketahui bahwa tempat itu ialah Padang Karbala, tempat kematian Husain yang diramalkan Nabi Muhammad dahulu. Hatta mereka pun kekurangan air, karena air sungai sudah ditebat oleh tentera Yazid. Air yang di dalam kendi kulit juga sudah terbuang, karena digorek tikus. Apa boleh buat. Terpaksalah mereka menahan dahaga yang sangat. Maka mulai peperangan itu. Pengikut Husain, satu demi satu syahid. Akhirnya anaknya sendiri, Kasim dan Ali Akbar, juga mati. Barulah ketika itu Husain teringat meminta bantuan kepada saudaranya, Muhammad Hanafiah, yang menjadi raja Buniara. Sesudah itu ia pun terjun ke dalam medan perang. Banyak musuh dibunuhnya. Sekali peristiwa, ia berjaya menghampiri sungai. Biarpun begitu, ia tidak meminum air itu, karena teringat kepada sahabat taulannya yang mati syahid disebabkan dahaga itu. Maka Husain pun lemahlah lalu gugur ke bumi. Betapa pun demikian, tiada seorang pun berani menghampirinya. Akhirnya Samir Laain yang susunya seperti susu anjing lagi hitam itulah yang maju ke depan dan memenggal leher Husain. Adapun Husain syahid itu pada sepuluh hari bulan Muharam, harinya pun hari Jumaat. Tatkala Husain syahid itu, arasy dan kursi gempar, bulan dan matahari pun redup, tujuh hari tujuh malam lamanya alam pun kelam kabut.

Setelah Husain syahid, maka segala isi rumah Rasul Allah terampaslah oleh tentera Yazid. Akan tetapi, seorang pun tiada berani menghampiri Ummi Salamah. Seorang lasykar yang merampas anak perempuan Ummi Salamah, dengan kudrat Allah, matanya menjadi buta. Yazid berjanji akan memberi diat kematian Husain, jika Ummi Salamah rela dengan dia. Ummi Salamah menolak. Yazid sangat marah. Apabila Fatimah, anak perempuan Ummi Salamah, meminta air minum, yang diberikannya ialah kepala Husain yang diceraikan dari badannya.

Kamis, 23 Oktober 2008

Apakah TUHAN itu ada???????????
Ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri
paman Sam kembali ke tanah air. Sesampainya dirumah ia
meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang
Guru agama, kiai atau siapapun yang bisa menjawab 3
pertanyaannya. Akhirnya Orang tua pemuda itu
mendapatkan orang tersebut.
Pemuda: Anda siapa? Dan apakah bisa menjawab
pertanyaan-pertanyaan saya?

Ustad: Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya
akan menjawab pertanyaan anda

Pemuda: Anda yakin? sedang Profesor dan banyak
orang pintar saja tidak mampu menjawab
pertanyaan saya.

Ustad: Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya

Pemuda: Saya punya 3 buah pertanyaan

1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan
wujud Tuhan kepada saya

2. Apakah yang dinamakan takdir

3. Kalau syetan diciptakan dari api kenapa
dimasukan ke neraka yang dibuat dari
api,tentu tidak menyakitkan buat syetan
Sebab mereka memiliki unsur yang sama.
Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?



Tiba-tiba Kyai tersebut menampar pipi si Pemuda

dengan keras.


Pemuda (sambil menahan sakit): Kenapa anda marah

kepada saya?


Ustad: Saya tidak marah...Tamparan itu adalah

jawaban saya atas 3 buah pertanyaan yang anda

ajukan kepada saya


Pemuda: Saya sungguh-sungguh tidak mengerti


Ustad: Bagaimana rasanya tamparan saya?


Pemuda: Tentu saja saya merasakan sakit


Ustad: Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?


Pemuda: Ya


Ustad: Tunjukan pada saya wujud sakit itu !


Pemuda: Saya tidak bisa


Ustad: Itulah jawaban pertanyaan pertama: kita

semua merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu

melihat wujudnya.


Ustad: Apakah tadi malam anda bermimpi akan

ditampar oleh saya?


Pemuda: Tidak


Ustad: Apakah pernah terpikir oleh anda akan

menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?


Pemuda: Tidak


Ustad: Itulah yang dinamakan Takdir


Ustad: Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan

untuk menampar anda?


Pemuda: kulit


Ustad: Terbuat dari apa pipi anda?


Pemuda: kulit


Ustad: Bagaimana rasanya tamparan saya?


Pemuda: sakit


Ustad: Walaupun Syeitan terbuat dari api dan Neraka

terbuat dari api, Jika Tuhan berkehendak

maka Neraka akan Menjadi tempat menyakitkan

untuk syeitan.

Senin, 20 Oktober 2008

Statistik Pemeluk Agama di Dunia

Masyarakat yang tidak beragama berada pada peringkat ketiga dengan jumlah persentase 16 persen dari keseluruhan penduduk dunia. Yang menarik adalah setengah dari kelompok ini percaya kepada Tuhan namun tidak mengikuti agama tertentu. Agama Yahudi yang jumlah pemeluknya memiliki persentase 0,22 % dari jumlah penduduk dunia berada pada peringkat terakhir dalam daftar agama-agama resmi dunia.
Walaupun di barat gereja-gereja yang tinggi menjulang banyak dibangun untuk menyebarluaskan ajaran-ajaran Kristiani, namun saat ini perkembangan agama Islamlah yang mengalami kemajuan pesat dan perselisihan serta perbedaan yang ada di tengah umat Islam pun semakin berkurang dibanding dengan agama-agama lain. Dengan mengingat segala permasalahan ekonomi dan berbagai problem lainnya yang terjadi pada negara-negara Islam, agama ini mampu berada pada peringkat kedua dalam daftar agama dengan jumlah penganut terbanyak.

Berdasarkan laporan situs Baztab Iran, hasil survei memperlihatkan agama Kristen menguasai 33 persen masyarakat dunia namun mereka mengalami perpecahan yang lebih besar dan lebih prinsipal dibanding agama-agama lainnya.

Agama Kristen sekarang terpecah menjadi berbagai macam aliran yang berbeda-beda seperti Katolik, Protestan, Ortodoks timur, Anglikan, Evangelis, Pantekosta dan lain sebagainya.

Islam yang dipeluk oleh sekitar 21 persen dari penduduk dunia termasuk Suni, Syi’ah dan beberapa mazhab lainnya menempati agama kedua dengan penganut terbanyak setelah agama Kristen.

Orang-orang yang tidak beragama berada pada peringkat ketiga dengan persentase 16 persen dari jumlah penduduk dunia, termasuk di antaranya mereka yang tidak percaya kepada Tuhan, orang-orang sekuler dan yang menyembunyikan keyakinannya. Yang menarik adalah setengah dari mereka ternyata percaya kepada Tuhan walaupun tidak meyakini agama mana pun.

Agama Hindu berada pada peringkat keempat dengan jumlah pengikut sebanyak 14 persen dari jumlah penduduk dunia. Diikuti agama Buddha, agama tradisional Cina dan kepercayaan-kepercayaan tradisional masyarakat Afrika yang masing-masing memiliki jumlah persentase sebanyak 6 persen.

Agama Sikh dengan 0,36 persen komunitasnya menempati peringkat berikutnya dan Yahudi ternyata menempati peringkat paling akhir dari daftar agama-agama dunia menurut jumlah pengikutnya.

Jumat, 17 Oktober 2008

teman koe......!!!!!!

http://musadiqmarhaban.wordpress.com/
http://www.khamenei.ir/
http://www.ahmadinejad.ir/
http://jafarsufigo.blogspot.com/
http://abi-kholid.blogspot.com/
http://ajibondan.wordpress.com/
http://muhsinlabib.wordpress.com/
http://musakazhim.wordpress.com/
http://mesiahkohen.wordpress.com/
http://amorinka.wordpress.com/
http://ressay.wordpress.com/
http://bensohib.wordpress.com/
http://maulanusantara.wordpress.com/
http://damartriadi.wordpress.com/
http://salehlapadi.blogspot.com/
http://taufiqhaddad.blogspot.com/
http://obesitas.wordpress.com/
http://www.mustangfm.com/
http://husainku.wordpress.com/
http://anditoaja.wordpress.com/
http://mozamal.wordpress.com/
http://chaosregion.wordpress.com/
http://wannabesunni.wordpress.com/
http://senyumsehat.wordpress.com/
http://abuaqilah.wordpress.com/
http://ahmadsamantho.wordpress.com/
http://secondprince.wordpress.com/
http://iwans.wordpress.com/
http://bumgembul.blogspot.com/....anak-anak....
http://www.centrajava.persianblog.ir/
http://cintarasulullah.wordpress.com/
http://vichaksana.blogspot.com/
http://ibnutaymiah.wordpress.com/
http://esharyudhi.wordpress.com/
http://asruldinazis.wordpress.com/
http://irfanpermana.wordpress.com/
http://www.islamalternatif.net/iph/index.php
http://islamfeminis.wordpress.com/
http://islamsyiah.wordpress.com/
http://jakfari.wordpress.com/
http://kajianislam.wordpress.com/
http://markaskio.wordpress.com/
http://musadiqmarhaban.wordpress.com/
http://mbojo.wordpress.com/
http://luthv.wordpress.com/
http://noertika.wordpress.com/
http://purkonhidayat.multiply.com/
http://haidarrein.wordpress.com/
http://rosenqueencompany.wordpress.com/
http://salafyindonesia.wordpress.com/
http://infosyiah.wordpress.com/
http://shahihbukhari.wordpress.com/
http://wahabisme.wordpress.com/
http://wildavy.wordpress.com/
http://isyraq.wordpress.com/
http://indra15.multiply.com/reviews/item/1
http://celotehjiwa.wordpress.com/
http://eraalquran.wordpress.com/
http://luthfis.wordpress.com/
http://erander.wordpress.com/
http://algembira.blog.com/
http://shalatdoa.blogspot.com/
http://kamal87.wordpress.com/
http://greenpressnetwork.wordpress.com/
http://aboubakr.wordpress.com/
http://savikovic.multiply.com/

Selasa, 14 Oktober 2008

Resesi Keuangan AS, Pusaran Badai Ekonomi Barat

Resesi Keuangan AS, Pusaran Badai Ekonomi Barat

Resesi keuangan AS, merupakan masalah serius bagi perekonomian kapitalis Eropa dan Asia. Munculnya resesi ini, menunjukan dampak dari kinerja delapan tahun pemerintahan George W. Bush pada masa-masa akhir jabatannya. Kini, warga AS dan mitra Amerika di Eropa tengah mengalami resesi keuangan terbesar yang tidak pernah terjadi sebelumnya, bahkan dampak krisis ini melampaui teritori AS. Berdasarkan laporan Dana Moneter Internasional (IMF), sebagian besar indeks ekonomi AS mencapai rekor terburuk sepanjang sejarah negeri ini. Lonjakan defisit tertinggi dalam neraca perdagangan AS sepanjang sejarah, utang terbanyak pemerintah AS dalam beberapa dekade terakhir, defisit neraca keuangan pemerintah yang tidak pernah terjadi sebelumnya, lonjakan angka pengangguran dan turunnya tabungan nasional dalam tiga dekade terakhir, menunjukan kondisi buruk ekonomi AS pada tahun terakhir pemerintahan Bush. Diprediksikan defisit neraca perdagangan AS hingga akhir tahun ini mencapai angka 634 milyar USD. Berdasarkan laporan IMF, utang bersih pemerinta AS hingga tahun 2008 akan melampaui angka 6.800 milyar USD. Tanda lain dari jebloknya ekonomi AS adalah penurunan volume tabungan hingga 13 % dibandingkan dengan neraca produksi bruto dalam negeri. Resesi keuangan terbaru, sejatinya menunjukan keterpurukan ekonomi AS.


Resesi ekonomi AS berawal dari bangkrutnya bank-bank raksasa kredit properti yang kemudian menggoyang sistem moneter AS. Bank-bank seperti Fannie Mae, Freddie Mac dan Lehman Brothers sebagai bank kredit properti terbesar di AS, memiliki total investasi ribuan milyar USD. Kebangkrutan bank-bank tersebut dipicu oleh ketidakmampuan jutaan warga AS dalam membayar pinjamannya, akibat lonjakan angka inflasi dan meningkatnya suku bunga. Sebagai contoh, lembaga finansial Lehman Brothers dengan investasi sekitar 600 milyar USD, harus membayar debit lebih dari angka investasinya. Bank-bank tersebut membentur krisis karena para debitor, dengan berbagai alasan, tidak mampu membayar cicilan utang propertinya dan pihak bank pun akhirnya melelang rumah-rumah mereka. Namun, ternyata bank tidak mampu menjual rumah-rumah tersebut. Hal inilah yang menyebabkan turunnya harga rumah dan terpuruknya pasar properti.

Berdasarkan data statistik, dilaporkan sekitar 9 juta warga AS tidak mampu membayar cicilan kredit rumah mereka. Pasar properti memainkan peran penting di pasar keuangan dan investasi AS. Setiap perubahan di pasar properti, sekali lagi berdampak besar terhadap perekonomian AS. Mayoritas warga AS meminjam uang untuk membeli rumah dan bank-bank AS pun memberikan kredit hingga 95 % dari nilai rumah tersebut kepada nasabah.

Pasca peristiwa 11 September 2001, pemerintahan Bush menerapkan kebijakan penurunan suku bunga sebagai upaya menggenjot sektor keuangan dan industri AS. Suku bunga 6% dalam waktu singkat di AS turun hingga 1%. Kebijakan ini diambil Bush untuk mencegah terpuruknya ekonomi AS dan menahan laju penurunan lebih besar nilai saham di pasar bursa Wall Street. Menyusul penurunan suku bunga ini, permintaan kredit terutama di sektor properti melonjak. Dengan kenaikan permintaan kredit properti tersebut, neraca permintaan (demand) pembelian rumah melampaui penawarannya (supply) dan harga properti pun meroket. Pada saat harga properti melonjak, harga minyak dunia melambung dan terjadi kenaikan inflasi di AS. Kenaikan harga properti dan minyak ini memicu lonjakan suku bunga yang berdampak anjloknya harga rumah, karena debitor tidak mampu mengembalikan cicilan kredit rumahnya.

Munculnya krisis di pasar properti AS menyebabkan anjloknya nilai saham di pasar bursa Wall street, melebihi angka penurunan pasca peristiwa 11 September 2001. Presiden AS mencabut seluruh programnya dan mengadakan rapat darurat dengan pejabat tinggi ekonomi AS di Gedung Putih. Pertemuan ini berbuah usulan program penyelamatan ekonomi yang diajukan kepada Kongres dengan anggaran sebesar 700 milyar USD. Namun delegasi dari dua partai Demokrat dan Republik menolak usulan Bush tersebut. Republikan menolak program penyelamatan ekonomi Bush dan menentang intervensi pemerintah dalam penanganan resesi keuangan. Hal itu dinilai bertentangan dengan ketentuan ekonomi liberal yang dianut negeri Paman Sam. Adapun anggota Demokrat yang menolak usulan Bush mengemukakan pertanyaan mengapa para pembayar pajak AS harus membayar kekeliruan manajemen dan kerakusan bank-bank dan lembaga finansial swasta? Setelah dilakukan berbagai revisi pada usulan pertama, akhirnya Kongres AS mengesahkan program penyelamatan ekonomi Bush. Namun kini muncul pertanyaan, seberapa besar dampak program penyelamatan ekonomi mampu mengontrol kebangkrutan bank-bank dan lembaga keuangan serta efek domino resesi keuangan terakhir tersebut?

Para pejabat di Departemen Perbendaharaan AS berkeyakinan bahwa program penyelamatan ekonomi Bush hanya satu langkah untuk mengontrol resesi keuangan dan dampaknya dalam waktu dekat dinilai tidak dapat diprediksikan. Saat ini saja, imbas resesi keuangan AS terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari warga AS. Turunnya pertumbuhan ekonomi AS dan lonjakan angka pengangguran merupakan dampak terdekat dari krisis keuangan AS. Selama bulan September saja, 150 ribu warga AS kehilangan pekerjaannya dan angka ini menunjukan data statistik terburuk sepanjang lima tahun terakhir.

Dampak resesi ekonomi AS di kancah global, lebih mengacu pada mitra-mitra AS di Eropa. Mengingat kedekatan hubungan dan transaksi antara pasar keuangan dan investasi Eropa dan AS, kini Uni Eropa menjadi pihak yang paling terancam akibat resesi keuangan di AS. Di Eropa pun bank-bank raksasa dan lembaga keuangan yang terjun di sektor properti berada diambang kebangkrutan. Presiden Perancis dan pemimpin periodik Uni Eropa Nicolas Sarkozy, dengan mengajukan program penyelamatan ekonomi seperti milik Bush, berupaya mengambil inisiatif untuk menangani resesi keuangan di Eropa. Ide Sarkozy diawali dengan mengalokasikan dana dengan nilai investasi 300 milyar Euro dan mengadakan rapat darurat dengan para pejabat tinggi Jerman, Inggris, dan Italia. Namun sebelum pertemuan segi empat Paris, Jerman, Inggris dan Italia menentang usulan Perancis dan karena dinilai telah keluar dari kesepakatan dalam pertemuan Paris. Para pemimpin empat negara adidaya ekonomi Eropa dalam pertemuan Paris hanya bersepakat bahwa dengan fleksibilitas lebih besar dalam ketentuan Uni Eropa, negara-negara anggota bisa mengambil keputusan di tingkat nasional terkait resesi keuangan. Eropa hingga kini menyuntikan milyaran euro kepada bank-bank dan lembaga keuangan yang berada diambang kebangkrutan. Pada tahap lain, negara-negara Eropa juga menjamin seluruh tabungan dan deposito pribadi, untuk mengatasi kekhawatiran dan mencegah perluasan aksi rush warga Eropa.

Sejatinya resesi keuangan terbaru dengan jelas menunjukan rapuhnya model perekonomian liberal. Berlanjutnya kondisi ini dapat menyeret negara-negara yang menganut sistem ekonomi kapitalis ke dalam jurang krisis yang lebih dalam dan akut. Tampaknya, pasca resesi keuangan ini reda, negara-negara Barat akan mulai meninggalkan sistem perekonomian Liberal dengan mengeluarkan kebijakan intervensi dan kontrol lebih besar di pasar-pasar keuangan dan investasi. Kebijakan tersebut ditempuh untuk menekan laju krisis yang tidak terkontrol dengan dampaknya yang menggurita. Namun poros terjadinya krisis ini berawal dari proses runtuhnya perekonomian kapitalis Barat. Bagaimanapun bagi berbagai negara dunia terutama negara-negara dunia ketiga, mengekor sistem liberalisme ekonomi politik Barat hanya akan menghancurkan diri sendiri.

Kamis, 09 Oktober 2008

Mengukur Bayang-bayang

Pemilu selalu dinyatakan sebagai pesta demokrasi. Tentu dengan bayangan bahwa dengan pemilu maka terlaksanalah demokrasi. Demokrasi dalam pemilu merupakan interpertasi dari makna bahwa rakyatlah yang memegang tampuk kepemerintahan di dalam suatu negara. Rakyat memberikan suaranya dalam pemilu, berarti rakyat telah menetukan wakilnya untuk membawa semua aspirasi mereka kedalam Dewan Perwakilan Rakyat atau Majlis Permusyawaratan Rakyat. Suara rakyat diberikan kepada partai-partai yang mereka yakini sebagai wadah aspirasi pertama dalam pesta itu, dengan semua apa yang ada dihatinya mereka meletakkan harapan diatas keyakinan pada partai yang berjanji akan membawakan aspirasi untuk menitih kebahagian masa depan dibawah pemerintah.





Rakyat adalah rakyat, dengan semua makna yang ada padanya, termasuk kwalitas dan kuantitasnya, juga termasuk dengan tingkatan ekonomi dan pendidikannya. Sehingga tidak mungkin keluar dari skema piramida atas semuanya, yaitu bertambah kwalitas (unsur rakyat) maka bertambah sedikit jumlahnya. Jadi rakyat kebanyakan adalah mereka yang memiliki kwantitas terbanyak tapi kwalitas rendah dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan ini dapat pula dibayangkan bahwa pesta demokrasi akan membawa makna yang tidak hanya satu, kalau pesta demokrasi itu penekanannya pada rakyat. Untuk itu demokrasi perlu diperjelas maknanya, sehingga akan menunjukkan sejauh mana kwalitas demokrasi yang dimaksudkan. Kalau saja demokrasi itu hanya sebatas makna harfiah saja, yaitu kata yang dipetik dari demos (rakyat) dan kratos (aturan/kekuatan) yang menunjukkan pemerintahan rakyat atau pemerintahan popular, maka makna kwalitas difinitif demokrasi tidak akan tercapai.

Hingga kini, kwalitas demokrasi secara difinitif tidak ada, karena tidak adanya satu difinisi yang tepat untuk mengartikan demokrasi, sehingga tidak jarang demokrasi hanya satu istilah yang digunakan ketika diperlukannya mayoritas untuk keperluan minoritas. Tidak jarang pemerintah yang dikuasai oleh minoritas menggunakan slogan demokrasi untuk menarik dukungan rakyat atau lebih tepat dikatakan bahwa pemerintah hendak menguasai rakyatnya dengan menggunakan slogan demokrasi. Juga partai yang ada, tidak jarang mereka mengeksploitasi suara rakyat dengan semboyan demokrasi. Tarikan slogan indah demokrasi yang digunakan dalam pemilu hanya sekedar satu cara partai untuk eksploitasi suara rakyat sebanyak mungkin untuk dapat mengirimkan wakilnya kejenjang lebih tinggi dalam pemerintahan.

Ada dua prinsip mendasar demokrasi sehingga kalaupun demokrasi harus di difinisikan maka tidak dapat kelaur dari kedua prinsip ini, yaitu:


A. Semua angota masyarakat memiliki hak yang sama untuk dapat mencapai kekuatan.
B. Semua anggota masyarakat menikmati nilai universal kebebasan dan kemerdekaan.


Melaksanakan kedua prinsip ini tentu tidak semudah mengucapkan kata demokrasi, karena kwalitas dari setiap butir prinsip ini memiliki latar belakang yang cukup kompleks. Paling tidak anggota masyarakat mengetahui tentang kedua prinsip ini, prinsip yang mendasari makna demokrasi, sehingga ikhtiyar –menetukan satu tindakan dari dua kemungkinan – akan dilakukan dengan penuh kesadaran, bukan didasari kejahilan. Kalau pemahaman ini tidak dimiliki maka sama dengan dengan penindasan hak terhadap mereka, yaitu menggiring rakyat melakukan kepada satu pebuatan yang tidak mereka ketahui/fahami, dan ini diluar dari makna demokrasi.

Dari kedua prinsip ini pula akan timbul fenomena yang akan membawa arti demokrasi yang berbeda, karena rakyat tidak memahami prinsip demokrasi maka tentulah mereka tidak akan memahami apa itu demokrasi. Seberapa dalam rakyat memahami makna demokrasi, maka mereka memahami bahwa suaranya akan berpengauh sangat besar dalam menentukan pemerintahan. Dengan berdasarkan inspirasi merekalah (baca: rakyat) sebenarnya pemerintah akan menjalankan tugasnya, sehingga cita-cita yang mereka inginkan akan menjadi kenyataan. Yaitu suara rakyat adalah inspirasi tunggal dalam menetukan kebijakan suatu pemeritah dalam melaksakakan tugas kepemerintahannya. Sehingga pemerintah akan mewakili makna yang berbunyi "Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat". Begitulah demokrasi seharusnya difahami oleh rakyat.

Untuk sampai pada kwalitas demokrasi seperti ini masih diperlukan pendidikan, minimal penjelasan dari sebagian rakyat yang ada pada jenjang pertengahan keatas dari pramida kwalitas (pendidikan) rakyat. Kalau tidak, maka-makna elit poitik akan mendominasi keuntungan dari setiap (aktivitas yang dilakukan) oleh rakyat. Yaitu kalau demokrasi dinisbahkan kepada rakyat (minus pendidikan) maka akan difahami sebagai demokrasi awam, yaitu semua makna demokrasi “awam”, termasuk kwalitas demokrasi atau juga tujuan yang hendak dicapai dari demokrasi tersebut. Yaitu tidak ada makna demokrasi sebenarnya, karena makna demokrasi disini adalah berkuasanya sekelompok rakyat (yang menjadi elite politik) terhadap inspirasi kebanyakan rakyat. Rakyat kebanyakan hanya tunduk kepada apa yang ditetapkan atau apa yang disampaikan oleh sebahagian rakyat (bagian atas-elite politik).


Betapa sulitnya rakyat untuk memahami apa itu demokrasi ketika suara mereka harus dibagikan kepada sekian puluh partai kemudian sekian puluh kelompok ini akan menuju ke kotak-kotak suara yang masing-masing dari mereka mengatasnamakan suara rakyat. Dengan banyaknya partai, maka akan terjadilah kemungkinan pengkotakan aspirasi rakyat, karena tidak menutup kemungkian banyaknya aspirasi rakyat dan partai-partai itu sendiri menjadi pembatas dari aspirasi yang datang dari bawah (baca: rakyat).


Ada Beberapa Kemungkinan yang Akan Terjadi:


1. Banyaknya partai, berati banyaknya aspirasi rakyat. Dengan contoh ini, seakan akan-akan partai telah mewakili - minimal satu- aspirasi rakyat. Dan ketika partai itu banyak, secara otomatis menunjukkan sekian banyak suara rakyat terpecah.


2. Banyaknya partai yang mewakili sekian banyak suara rakyat, yaitu banyaknya suara rakyat terpaksa diperlukan juga sekian banyak partai sehingga semua inspirasi yang datang dari rakyat akan dibawa kemajlis lebih tinggi. Dengan kata lain, karena aspirasi rakyat terlampau banyak, maka terpaksa menggunakan sekian banyak partai dan dengan itu semua, maka aspirasi mereka dapat ditransfer melalui partai.


3. Terjadinya pengkotakan aspirasi suara rakyat. Seiring dengan adanya interes partai yang seringnya menggunakan slogan keinginan rakyat. Peluang terjadinya perselisihan dalam mewakili “aspirasi” rakyat itu sendiri disebabkan apa yang mereka wakili dan inginkan tidak ketahui. Parah lagi jika, perselisihan asirasi dan interest itu terjadi pada peringkat yang lebih tinggi. Oleh karena itu banyaknya partai, minimalnya suara rakyat tidak sepenuhnya diwakili oleh partai atau partai tidak lagi sepenuhnya mewakili aspirasi rakyat.


4. Rakyat menyuarakan aspirasinya hanya sebatas memilih lambang partai. Dimana aspirasi rakyat tidak lebih dari pada bentuk dukungan pada partai yang dipilihnya, ditambah pula iming-iming harapan dan keinginan rakyat akan dibawa melalui partai. Dengan memilih partai, secara otomaits mereka telah memberikan amanat aspirasinya kepada partai. Yaitu aspirasi rakyat adalah aspirasi partai.


5. Rakyat memilih partai yang mana saja, karena rakyat yakin apapun nama partai akan sama-sama membawakan aspirasi rakyat.


Sekian banyak lagi kemungkinan yang dapat terjadi pada “pesta demokrasi” pemilu. Tapi tidak dapat ditolak bahwa nilai pesta demokrasi dari pemilih itu tidak dapat diartikan bahwa telah dilaksanakan demokrasi yang sebenarnya. Karena demokrasi yang sebenarnya adalah suara rakyat yang memimpin dan sekaligus menetukan, apapun yang ada ditengahnya –baik partai ataupun institusi yang mewakili rakyat dan pemerintah sekalipun- tidak lebih dari sarana penyampai aspirasi dan suara rakyat. Apa yang terjadi akan tidak lebih dari “aktivitas-demokrasi” tapi tidak memiliki “muatan-demokrasi’. Karena muatan demokrasi adalah ketika kedua prinsip demokrasi telah bersama dalam ikhtiyar rakyat. Tanpanya demokrasi hanya eksploitasi (suara) rakyat demi kepentingan partai atau ruling party.

Tentu pesta demokrasi dengan maknanya yang sahih akan dapat terjadi ketika sekian banyak persyaratan itu dipenuhi diantaranya:


I. Standarnisasi istilah dalam semua hal yang menyangkut aspek demokrasi, sehingga akan membentuk tatanan yang pasti dan jelas serta sistimasi yang dapat difahami bersama oleh rakyat sebagai pelaku utama dalam aktivitas demokrasi tersebut.


II. Rakyat memiliki pengetahuan cukup terhadap makna dan praktek domokrasi. Dengan inilah rakyat dengan sesadar-sadarnya akan berikhtiar memberikan suaranya. Dengan kesadaran yang tinggi pula akan memantik motivasi yang kuat untuk tidak didhalimi ataupun mendholimi yang lain. Dengan inilah makna demokrasi akan terlaksana.


III. Pemerintah harus menyadari bahwa apa yang mereka lakukan adalah hasil dari kesadaran rakyat terhadap keberadaannya. Pemerintah tidak lain adalah rakyat itu sendiri yang sedang menjalankan fungsi atas aspirasi yang dihasikan oleh pemilu. Tidak ada lagi kepentingan (demand) pribadi atau partai dalam mengemban tugas dari rakyat tersebut.


IV. Kepentingan rakyat merupakan motivasi dan sekaligus tujuan dari pemerintah. Sehingga tidak ada tujuan yang lebih penting bagi pemerintah kecuali mengadakan semua yang diharapkan oleh rakyat. Disinilah pemerintah akan tampak dengan jelas sebagai sarana mencapai tujuan kesejahteraan rakyat.


V. Kesadaran rakyat yang berarti kesadaran pemerintah, masing masing menjalankan tugasnya. Karena demokrasi bukan saja terjadi dimasa pemilu, tapi disetiap masa ketika kemerdekaan, kebebasan dan hak hak individu merupakan prinsip, maka tidak ada masa dimana semua unsur kehilangan prinsip prinsip ini. Dengan hilangnya prinsip ini maka akan hilang pula makna demokrasi.

Pesta demokrasi memang perlu digelar dalam perjalanan masyarakat demi menjaga hak-hak semua dalam mencapai tujuan kehidupan pribadi maupun bermasyarakat. Malah boleh dikatakan bahwa dengan pesta demokrasi atau pemilu, maka hak-hak setiap individu dalam masyarakat akan terjaga dan tersalurkan tepat pada tempatnya (proper). Pelaksanaan makna demokrasi adalah lebih penting dari pada hanya menyebar slogan atau memamerkan aksi demokrasi yang tidak lebih dari penindasan satu kelompok terhadap kelompok lain. Penindasan adalah bentuk kedhaliman. Tidak ada kedhaliman yang diterima oleh manusia, sehingga tidak ada unsur demokrasi yang menginginkan hal itu terjadi. Semua menginginkan terjaganya setiap hak, sehingga setiap bentuk pencabutan atau penindasan hak akan ditentang, tidak ada pengecualian dalam hal ini. Setiap unsur harus mengetahui posisi dan tugasnya dalam melaksanakan demokrasi, yang berarti menjaga hak-hak setiap unsur masyarakat. Tentunya semua akan mengukur bayang-bayangnya sehingga tidak akan melebihi tinggi badan. Dengan demokrasi ini akan terbentuklah keadilan dalam masyarakat sebagaimana yang diinginkan dan diharapkan oleh rakyat.

Pemilu sebagai pesta demokrasi harus diadakan untuk menjalankan roda demokrasi, karena dengan ini akan terjamin keberlangsungan pemerintah. Tapi kalau saja demokrasi akan berakhir hanya sebatas pemilu, maka pemerintah akan berjalan tampa kontrol rakyat, dan sebaliknya rakyatpun suatu waktu akan bangkit menuntut haknya dari pemerinah - dan ini akan diluar kontrol pemerintah - kedua belah pihak akan rugi. Maka satu hal yang harus dijalankan adalah menjaga hak semua dengan menjalankan prinsip demokrasi.

Dunia adalah dalil dan bukti untuk semua pelajaran yang baik. Dari sekian banyak kesalahan yang pernah dilakukan manusia sebelum ini, maka semuanya adalah pelajaran yang tercatat dalam sejarah yang dibuat anak manusia. Lebih mudah lagi adalah melihat apa yang terjadi dimasa ini. Bagaimana manusia bermain dengan kata demokrasi dan apa yang dihasilkanya?!. Semua adalah pelajaran bagi mereka yang berakal, karena semua adalah ayat-ayat yang masih dapat dibaca - dengan akal yang sehat-.

Rakyat Indonesia harus kembali berfikir tentang pesta demokrasi yang mereka lakukan. Sudah berapa kali pesta demokrasi yang mereka selenggarakan, dan apa yang sudah mereka dapatkan dari semua semboyan demokrasi selama ini. Bukankah belum satu dekade berlalu, dari sekilan dekade rakyat dibuai dengan kata demokrasi, harapan dan asa, tapi hasilnya tidak lebih dari pada penindasan hak dan hilangnya harapan. Atas nama demokrasi pula partai-partai itu meluluh lantakkan harapan dan cita-cita rakyat yang sebenarnya sederhana. Sehingga akan sampai masanya sekarang ini untuk merenung kembali semua istilah dan semboyan yang sudah lama dipakai, tapi ternyata tidak membawa menuju ke cita-cita semua. Harapan yang dibawa dalam pesta demokrsi selalu kandas dan dikandaskan tanpa disadari oleh rakyat, dan pemerintah terus berjalan dengan menabur janji-janji dan slogan tidak bermakna sebagai selimut kedhaliman yang mereka lakukan terhadap hak rakyat. Lebih jauh lagi bahwa kedhaliman itu terjadi pada mereka yang meletakkan harapannya (baca:rakyat) pada pemerintah.

Ukurlah bayang-bayang sendiri dan jaga lah bayang-bayang itu, sehingga dia tidak melebihi tinggi badan. Dengan demikian tidak ada yang harus menuntut haknya dari yang lain, karena semua telah mendapatkan dengan sempurna dan adil. Begitulah keinginan setiap unsur pelaksana demokrasi. Semoga akan terlaksana cepat, secepat munculnya harapan mereka yang berharap.