Rabu, 05 November 2008

Peristiwa Muharram........

Bulan Muharram adalah awal tahun Hijriyah, bulan kesedihan bagi keluarga Nabi saw dan para pengikutnya. Pada hari pertama Muharram disunnahkan berpuasa dan melakukan shalat sunnah dua rakaat dan membaca doa (3 kali) sebagaimana yang disunnah kepada Zakariya, yaitu:

اَللّهُمَّ اَنْتَ الاِْلهُ الْقَديمُ وَهذِهِ سَنَةُ جَديدَةُ فَاَسْئَلُكَ فيهَا الْعِصْمَةَ مِنَ الشَّيْطانِ وَالْقُوَّةَ عَلى هذِهِ النَّفْسِ الاَْمّارَةِ بِالسّوءِ وَالاِْشْتِغالَ بِما يُقَرِّبُنى اِلَيْكَ يا كَريمُ يا ذَا الْجَلالِ وَالاِْكْرامِ يا عِمادَ مَنْ لا عِمادَ لَهُ يا ذَخيرَةَ مَنْ لا ذَخيرَةَ لَهُ يا حِرْزَ مَنْ لا حِرْزَ لَهُ يا غِياثَ مَنْ لا غِياثَ لَهُ يا سَنَدَ مَنْ لا سَنَدَ لَهُ يا كَنْزَ مَنْ لا كَنْزَ لَهُ يا حَسَنَ الْبَلاءِ يا عَظيمِ الرَّجاءِ يا عِزَّ الضُّعَفآءِ يا مُنْقِذَ الْغَرْقى يا مُنْجِىَ الْهَلْكى يا مُنْعِمُ يا مُجْمِلُ يا مُفْضِلُ يا مُحْسِنُ اَنْتَ الَّذى سَجَدَ لَكَ سَوادُ اللَّيْلِ وَنُورُ النَّهارِ وَضَوْءُ الْقَمَرِ وَشُعاعُ الشَّمْسِ وَدَوِىُّ الْمآءِ وَحَفيفُ الشَّجَرِ يا اَللهُ لا شَريكَ لَكَ اَللّـهُمَّ اجْعَلْنا خَيْراً مِمّا يَظُنُّونَ وَاغْفِرْ لَنا ما لا يَعْمَلُونَ وَلا تُؤاخِذْنا بِما يَقُولُونَ حَسْبِىَ اللهُ لا اِلـهَ اِلاّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظيمِ آمَنّا بِهِ كلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنا وَما يَذَّكَّرُ اِلاّ اُولُوا الاَْلْبابِ رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنا وَهَبْ لَنا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهّابُ .
“Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Maha Qadim. Inilah tahun baru, aku memohon kepada-Mu penjagaan dari setan, kekuatan terhadap jiwa yang selalu memerintahkan pada keburukan, dan kesibukan yang selalu mendekatkan diri kepada-Mu. Wahai Yang Maha Mulia, wahai Yang Memiliki keagngan dan kemuliaan. Wahai Sandaran bagi setiap yang tak memiliki sandaran, wahai Simpanan bagi setiap yang tak memiliki simpanan, wahai Penjagaan bagi yang tak memiliki penjagaan, wahai Perlindungan bagi yang tak memiliki perlindungan, wahai Sandaran bagi yang tak memiliki sandaran, wahai Simpanan bagi yang tak memiliki simpanan, wahai Yang Terbaik dalam memberi ujian, wahai Harapan yang paling besar, wahai Yang Memuliakan orang-orang yang lemah.
Wahai Yang Mennyelamatkan orang yang tenggelam, wahai Yang Menyelamatkan orang yang binasa, wahai Yang Memberi keindahan, wahai Yang Memberi karunia, wahai Yang Memberikan kebaikan.
Hanya kepada-Mu sujud kegelapan malam dan cahaya siang, cahaya bulan dan sinar matahari, gemericik air dan desir pepohonan.
Ya Allah, tiada sekutu bagi-Mu. Ya Allah, jadikan bagi kami kebaikan apa yang mereka perkirakan. Ampuni kami apa yang mereka tidak ketahui. Jangan siksa kami dengan apa yang mereka katakan. Cukuplah bagiku Allah sebagai pelindung, tiada Tuhan kecuali Dia, kepada-Nya aku bertawakkal. Dialah Tuhan Arasy yang agung. Kami beriman kepada-Nya apa yang datang dari sisi Tuhan kami, dan tidak akan mengingat-Nya kecuali orang-orang yang berpikir.
Duhai Tuhan kami, jangan nodai hati kami sesudah Kau bimbing kami. Anugrahkan kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungghnya Engkau Maha Memberi karunia.”

Hari ketiga adalah hari Nabi Yusuf (as) dibebaskan dari penjara. Disunnahkan berpuasa pada hari pertama hingga hari kesembilan. Hari kesepuluh adalah hari yang dikenal dengan hari Asyura, hari terbunuhnya Al-Husein (sa) cucu Rasulullah saw di Padang Karbala, hari puncak kesedihan bagi keluarga Nabi saw dan para pengikutnya. Pada hari ini disunnahkan membaca doa ziarah kepada cucu Rasulullah saw, Al-Husein (sa) dan membaca doa hari Asyura. (Mafatihul Jinanm bab 2, halaman 286)

Ziarah 10 Muharram penuh haru..hiks..hiks....

Asyura (10 Muharram) adalah hari puncak duka keluarga Nabi saw dan para pengikutnya. Pada hari ini terjadi peristiwa yang tragis menimpa keluarga Rasulullah saw. Pada hari ini Aba Abdillah Al-Husein, cucu tercinta Rasulullah saw dibantai di padang Karbala oleh pasukan Yazid bin Mu’awiyah.

Al-Husein (sa) adalah sosok pribadi yang tegas, tidak pernah kompromi dengan kezaliman. Ia bertekad memperjuangkan kebenaran dan keadilan sebagaimana yang diajarkan oleh ayah dan kakeknya. Sejarah mencatat bahwa Al-Husein (sa) adalah sosok manusia yang paling dicintai oleh Rasulullah saw. Karena pribadinya yang tegas, tidak mau kompromi dengan kezaliman, akhirnya pada 10 Muharram 61 H Al-Husein dan rombongannya yang terdiri dari keluarganya dan sebagian sahabat-sahabat Nabi saw dibantai di Karbala. Maka selayaknya kita sebagai ummat Rasulullah saw merasa prihatin terhadap kejadian itu, menyampaikan salam dan ziarah kepadanya dan para syuhada’ yang bersamanya. Berikut ini tek ucapan salam dan ziarah kepadanya:

Salam atasmu duhai Aba Abdillah
Salam atasmu duhai putera Rasulullah
Salam atasmu duhai putera Amirul mukminin, putera penghulu para washi
Salam atasmu duhai putera Fatimah penghulu perempuan semesta alam
Salam atasmu ya Tsarallah wabna Tsarih wal-Mitral Mawtur
Salam atasmu dan semua Arwah yang bergabung di halaman kediamanmu
Sepanjang hidupku, selama siang dan malam, aku akan selalu mendoakanmu semoga Allah melimpahkan kedamaian-Nya kepadamu semua.

Salam atasmu duhai Aba Abdillah dan semua Arwah yang bergabung di halaman kediamanmu. Kupanjatkan doa sepanjang hidupku, siang dan malam, semoga Allah senantiasa melimpahkan kedamaian-Nya kepadamu. Semoga Allah tidak menjadikan ziarahku ini sebagai ziarah yang terakhir kepadamu.

Salam pada Al-Husein, salam pada Ali putera Al-Husein, salam pada semua putera Al-Husein, salam pada semua sahabat Al-Husein.

Ya Allah, hidupkan aku seperti kehidupan Muhammad dan keluarga Muhammad, dan matikan aku seperti wafatnya Muhammad dan keluarga Muhammad…..
(Mafatihul Jinan, bab 3, Pasal 7, halaman 456)

Hiks...10 Muharram.......


Pada hari Asyura, 10 Muharram 61 H, terjadilah Tragedi Karbala.
Peristiwa Karbala yang menimpa Al-Husein bin Ali bin Abi Thalib (sa) jauh sebelumnya telah diberitakan oleh malaikat Jibril kepada Rasulullah saw. Ummu Salamah isteri tercinta Rasulullah saw menuturkan: Ketika hendak tidur Rasulullah saw gelisah, ia berbaring kemudian bangun, berbaring dan bangun lagi. Aku bertanya kepadanya: Mengapa engkau gelisah ya Rasulallah? Rasulullah saw menjawab: “Baru saja Jibril datang kepadaku memberitakan bahwa Al-Husein akan terbunuh di Karbala. Ia membawa tanah ini dan simpanlah tanah ini. Jika tanah ini kelak telah berubah warna menjadi merah pertanda Al-Husein telah terbunuh.” Ummu Salamah menyimpan tanah itu.

Al-Husein (sa) mengajak keluarganya dan sahabat-sahabat Nabi saw yang masih hidup saat itu untuk bergabung bersamanya. Sebelum meninggalkan kota Madinah, Al-Husein (sa) pergi berziarah ke pusara kakeknya Rasulullah saw. Di kubur Kakeknya ia membaca doa dan menangis hingga larut malam dan tertidur. Dalam tidurnya ia mimpi Rasulullah saw datang kepadanya, memeluknya dan mencium keningnya. Dalam mimpinya Rasulullah saw berpesan: “Wahai Husein, ayahmu, ibumu dan kakakmu menyampaikan salam padamu, mereka rindu kepadamu ingin segera berjumpa denganmu. Wahai Husein, tidak lama lagi kamu akan menyusulku dengan kesyahidanmu.” Lalu Al-Husein terbangun.

Di kubur kakeknya Al-Husein berjanji dan bertekah untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, menyampaikan Islam sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Kemudian Ia mendatangi keluarganya dan mengajak sebagian sahabat-sahabat Nabi saw yang masih hidup saat itu untuk bergabung bersamanya.

Ketika akan meninggalkan kota Madinah menuju ke Irak, Al-Husein pamet kepada Ummu Salamah, ia menangis dan mengantarkannya dengan linangan air mata, ia terkenang saat bersama Rasulullah saw dan teringat akan pesan yang disampaikan kepadanya.

Kini Al-Husein dan rombongannya berangkat menuju Irak. Karena lelahnya perjalanan yang cukup jauh, Al-Husein dan rombongan yang tidak lebih dari 73 orang berhenti di padang Karbala. Rombongan Al-Husein (sa) terdiri dari keluarganya dan sebagian sahabat-sahabat Nabi saw. Mereka memancangkan kemah-kemah di padang Karbala untuk berteduh dari sengatan panas matahari dan istirahat karena lelahnya perjalanan yang cukup jauh.

Deru suara kuda terdengar dari kejauhan. Semakin lama suara itu semakin jelas bahwa suara itu adalah suara deru kuda pasukan Ibnu Ziyad yang jumlahnya ribuan. Rombongan Al-Husein yang jumlahnya tidak lebih dari 73 orang terdiri dari: anak-anak kecil dan wanita dari keluarganya, dan sebagian sahabat-sahabat Nabi saw. Mereka harus berhadapan dengan ribuan pasukan Ibnu Ziyad gubernur pilihan Yazid bin Muawiyah.

Karena jauhnya perjalanan Al-Husein dan rombongannya kehabisan bekal. Mereka dalam keadaan haus dan lapar. Sebagian dari mereka berusaha mengambil air dari sungai Efrat, tapi mereka dihadang oleh pasukan Ibnu Ziyah. Mereka tetap berusaha keras mengambil air untuk dipersembahkan kepada Al-Husein dan keluarganya serta rombongan yang kehausan. Tapi mereka gagal karena diserang oleh anak-anak panah pasukan Ibnu Ziyah, dan mereka berguguran menjadi syuhada’.

10 Muharram 61 H, pasukan Ibnu Ziyad mulai melakukan serangan pada rombongan Al-Husein yang dalam keadaan haus dan lapar. Salah seorang pasukan melancarkan anak panah pada leher anak Al-Husein yang masih bayi dan berada dalam pangkuan ibunya, sehingga mengalirlah darah dari lehernya dan meninggallah bayi yang tak berdosa itu.

Pada sore hari 10 Muharram 61 H, pasukan Al-Husein banyak yang berguguran. Sehingga Al-Husein (sa) tinggallah seorang diri dan beberapa anak-anak dan wanita. Dalam keadaan haus dan lapar di depan pasukan Ibnu Ziyad , Al-Husein (sa) berkata: “Bukalah hati nurani kalian, bukankah aku adalah putera Fatimah dan cucu Rasulullah saw. Pandanglah aku baik-baik, bukankah baju yang aku pakai adalah baju Rasululah saw.”

Tapi sayang seribu sayang karena emeng-emeng hadiah jabatan dan materi dari Ibnu Ziyah dan Yazid bin Muawiyah, kecuali Al-Hurr pasukan Ibnu Ziyad tidak memperdulikan ajakan Al-Husein (sa), mereka menyerang Al-Husein yang tinggal seorang diri. Serangan itu disaksikan oleh Zainab (adiknya), Syaherbanu (isterinya), Ali bin Husein (puteranya), dan rombongan yang masih hidup yang terdiri dari wanita dan anak-anak. Pasukan Ibnu Ziyad melancarkan anak-anak panah pada tubuh Al-Husein, dan darah mengalir dari tubuhnya yang sudah lemah. Akhirnya Al-Husein terjatuh di tengah-tengah mayat para syuhada’ dari pasukannya.

Melihat Al-Husein terjatuh dan tak berdaya, Syimir dari pasukan Ibnu Ziyah turun dari kudanya, menginjak-injakkan kakinya ke dada Al-Husein, lalu menduduki dadanya dan menghunus pedang, kemudian menyembelih leher Al-Husein yang dalam kehausan, sehingga terputuslah lehernya dari tubuhnya. Menyaksikan peristiwa yang tragis ini Zainab dan isterinya serta anak-anak kecil menangis dan menjerit tragis. Tidak hanya itu kekejaman Syimir, ia melemparkan kepala Al-Husein yang berlumuran ke kemah Zainab. Semakin histeris tangisan Zainab dan isterinya menyaksikan kepala Al-Husein yang berlumuran darah berada di dekatnya.

Zainab menangis dan menjerit, jeritannya memecah suasana duka. Ia merintih sambil berkata: Oh… Husein, dahulu aku menyaksikan kakakku Al-Hasan meninggal diracun oleh orang terdekatnya, dan kini aku harus menyaksikan kepergianmu dibantai dan disembelih dalam keadaan haus dan lapar.

Ya Allah, ya Rasullallah, saksikan semua ini. Al-Husein telah meninggalkan kami dibantai di Karbala dalam keadaan haus dan lapar. Dibantai oleh ummatmu yang mengharapkan syafaatmu. Ya Allah, ya Rasulallah Akankah mereka memperoleh syafaatmu sementara mereka menghinakan keluargamu, dan membantai Al-Husein yang paling engkau cintai?

10 Muharram 61 H, bersamaan akan tenggelamnya matahari, mega merah pun mewarnai kemerahan ufuk barat, saat itulah tanah Karbala memerah, banjiri darah Al-Husein (sa) dan para syuhada’ Karbala. Bumi menangis, langit dan penghuinya berduka atas kepergian Al-Husein (sa) pejuang kebenaran dan keadilan.

Dari sebagian sumber riwayat menuturkan bahwa sejak kepergian Al-Husein dari Madinah Ummu Salamah selalu memperhatikan tanah yang dititipkan oleh Rasulullah saw, saat Al-Husein terbunuh tanah itu berubah warna menjadi merah, Ummu Salamah menangis, teringat pesan-pesan Rasulullah saw dan terkenang saat-saat bersamanya.

Kini rombongan Al-Husein (sa) yang masih hidup tinggallah: Zainab dan isterinya, Ali putra Al-Husein yang sedang sakit, dan sisa rombongannya yang masih hidup yang terdiri dari anak-anak dan wanita. Mereka diikat rantai dan digiring dalam keadaan haus dan lapar, dari karbala menuju kantor gubernur Ibnu Ziyad yang kemudian mereka digiring ke istana Yazid bin Muawiyah di Damaskus. Dalam keadaan lemah, lapar dan haus, mereka dirantai dan digiring di sepanjang jalan kota Kufah. Mereka disaksikan oleh penduduk Kufah yang berbaris di sepanjang jalan. Mereka menundukkan kepala, malu dengan sorotan mata yang memandangi mereka.

Kini sisa rombongan Al-Husein digiring ke istana Yazid bin Muawiyah. Sebagian pasukan membawa kepala Al-Husein untuk dipersembahkan kepada Yazid. Dengan mempersembahkan kepala Al-Husein dan tawanan wanita dan anak kecil yang sebagian dari mereka adalah cucu dan keturunan Nabi saw, mereka berharap mendapatkan imbalan jabatan dan materi sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Yazid bin Muawiyah. Kini tiba saatnya Yazid, Ibnu Ziyad, para pejabat dan pasukannya berpesta di istana, merayakan kemenangannya.

Duhai para pejuang kebenaran dan keadilan, hati siapa yang tidak teriris dan berduka menyaksikan tragedi Karbala?

Duhai para pecinta Rasulullah dan keluarganya, hati siapa yang tidak merasa sedih dan iba menyaksikan keluarga Nabi saw dirantai dan digiring di sepanjang kota Kufah
dalam keadaan haus dan lapar lalu dihinakan di istana Yazid bin Muawiyah?

Duhai kaum muslimin dan ummat Rasulullah saw, peristiwa apalagi dalam sejarah manusia yang lebih tragis dari peristiwa Karbala?

Duhai orang-orang yang lemah dan tertindas, hati siapa yang tidak tesentuh dan terbangkitkan oleh semangat darah Al-Husein dan para syuhada’ Karbala?

Duhai kaum muslimin dan mukminin ummat Rasulullah saw, masih adakah hati yang keberatan menyampaikan salam dan ziarah kepada Al-Husein (sa) dan para syuhada’ Karbala?

Mari kaum muslimin, para pecinta kebenaran dan keadilan kita ucapkan salam:
اَلسَّلامُ عَلَى الْحُسَيْنِ وَعَلى عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ وَعَلى اَوْلادِ الْحُسَيْنِ وَعَلى اَصْحابِ الْحُسَيْنِ.
Assalâmu ‘alal Husayn wa ‘alâ Aliyibnil Husayn wa ‘alâ awlâdil Husayn wa ‘alâ ashhâbil Husayn.

Salam pada Al-Husein, salam pada Ali bin Husein, salam pada semua putera Al-Husein, dan salam pada semua sahabat Al-Husein.

Tragedi cucunda nabi penghulu pemuda surga

Bulan Muharam Bulan berduka bagi keluarga Nabi saw dan pengikutnya. Di bulan ini terjadi tragedi Karbala, peristiwa yang paling tragis dalam sepanjang sejarah kehidupan manusia.

Tragedi Karbala terjadi pada 10 Muharram 61 H. Peristiwa ini dikenal dengan peristiwa Asyura. Hampir semua kaum muslimin di Indonesia mengenal Asyura. Sehingga
di Padang, Riau dan Aceh diadakan upaca Tabut, bahkan tarian Saman Aceh diduga sebagai jejak upacara ratapan Asyura, di Jawa diadakan upacara saling antar bubur Suro, tidak melangsung ucapara bersenang-senang seperti perkawinan dan lainnya, juga di Madura ditradisikan saling antar bubur pedas, juga masyarakat muslim di daerah-daerah nelayan enggan melaut, semua ini menyimbolkan kepedihan Asyura, tragedi Karbala.

Peristiwa Karbala adalah peristiwa dimana kebenaran dengan kebatilan, keadilan dengan kezaliman saling berhadapan. Semestinya tidak ada seorang pun muslim yang meragukan peristiwa ini, yakni dengan bersikap netral. Ketika Al-Husein bin Abi Thalib (sa) dan pasukannya berhadapan dengan Yazid bin Muawiyah dan pasukannya, maka ini berarti telah berhadapan antara kebenaran dengan kebatilan, keadilan dengan kezaliman, para pecinta jabatan dengan pecinta Allah, dan pelahap dunia dengan pengharap akhirat. Dua kubu ini tidak pernah bersatu sejak zaman para nabi terdahulu, sejak zaman Rasulullah saw hingga zaman kita sekarang, bahkan sampai akhir zaman. Jika terjadi kedua kubu ini bersatu, itu adalah kepura-puraan dan kemunafikan, bukan perjuangan kebenaran dan keadilan yang sejati.

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) pernah berkata: Ketika telah berhadapan antara pasukan kebenaran dengan pasukan kebatilan, keadilan dengan kezaliman, kemudian ada orang yang netral maka doronglah ia pada musuh. Kebenaran ini telah membuktikan keberadaannya dalam kehidupan kita sekarang.

Dalam perjuangan tidak boleh ada orang-orang yang netral, karena sikap ini akan membahayakan perjuangan itu sendiri. Dengan sikap netral mereka akan mudah membaca peluang dan kesempatan untuk meraih dunia dan jabatan. Sehingga saat musuh menawarkan dunia dan jabatan, mereka akan dengan mudahnya meninggalkan pemimpin yang sholeh dan perjuangannya. Kemudian menjual kepada musuh rahasia-rahasia perjuangan dengan jabatan dan dunia. Bukankah hal ini yang banyak terjadi dalam perjuangan ummat Islam dari dulu hingga sekarang.

Sekiranya dalam perjuangan ummat Islam di dunia tidak ada mereka yang netral, para pencari jabatan dan pelahap dunia, niscaya Islam dan ummatnya sudah berjaya sejak dulu, dan Israil tidak menguasai ummat Islam.

Kejadian inilah yang dialami oleh pejuang kebenaran dan keadilan, Al-Husein (sa) cucu tercinta Rasulullah saw dikhianati oleh orang-orang Kufah yang awalnya berjanji untuk berbaiat kepadanya, tapi ternyata mereka menghadang Al-Husein (sa) dan rombongannya dengan hunusan pedang. Mengapa mereka berbalik 100 derajat? Karena mereka mengharap janji-janji Yazid dan Ibnu Ziyad berupa jabatan dan dunia. Di sisi yang lain mereka mengenal bahwa pribadi Al-Husein (sa) bersikap tegas terhadap para pengharap jabatan dan pelahap dunia, tidak pernah kompromi terhadap kezaliman dan kebatilan.

Kita harus mengambil pelajaran dari peristiwa Karbala dan perang Uhud. Mengapa secara fisik, bukan secara mental dan ruhani, pihak pejuang kebenaran dan keadilan menderita kekalahan? Jelas ini disebabkan oleh mental kaum muslimin. Bukan disebabkan oleh pemimpin yang suci dan perjuangan itu sendiri.

Khilafah Islamiyah?
Akankah kita mengulang kejadian zaman dulu? Memperjuangkan Khilafah Islamiyah, tapi menindas dan membunuh orang-orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.
Simbol-simbol Islam dijadikan alat untuk menindas orang-orang yang lemah, memeras keringat rakyat kecil dan darah kaum muslimin. Ini jelas menyalahi prinsip Islam. Kita ummat Islam tidak boleh mencontoh sikap dan mental Yazid bin Muawiyah yang membangun khilafah Islamiyah dengan simbol-simbol keislaman dan jubahnya untuk mengelabui ummat Islam, dan membunuh Al-Husein (sa) manusia yang paling dicintai oleh Rasulullah saw.

Duhai saudara-saudaraku kaum muslimin, marilah kita renungi dengan pikiran yang bersih dan hati yang suci jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut:

1) Mengapa Yazid bin Muawiyah dan Ibnu Ziyad memerangi Al-Husein? Padahal tentang Ali, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Husein (sa) Rasulullah saw bersabda:

“Aku memerangi orang yang kalian perangi, dan berdamai dengan orang yang kalian berdamai dengannya.” (Shahih At-Tirmidzi 2/319, bab 61, hadis ke 3870)

“Aku memerangi orang yang memerangi kalian, dan berdamai dengan orang yang berdamai dengan kalian.” (Musnad Ahmad 2/442, hadis ke 9405)

2) Mengapa pasukan Ibu Ziyad melancarkan anak-anak panah ke tubuh Al-Husein (sa), dan Syimir menyembelih lehernya ssehingga terpisah dari tubuhnya? Padahal Ummul Fadhel pernah bercerita: Aku melihat di rumahku seolah-olah ada bagian dari tubuh Rasulullah saw. Lalu aku datang kepada Rasulullah saw menceritakan kejadian ini. Lalu Rasulullah saw bersabda: “Apa yang kamu lihat itu adalah kebaikan, Fatimah akan melahirkan seorang bayi, dan kamu akan menyusuinya.” (Musnad Ahmad 6: 399, hadis ke 26334)

Usamah bin Zaid berkata: Pada suatu malam aku datang kepada Nabi saw karena suatu keperluan, lalu beliau keluar rumah dan menyelimuti sesuatu, aku tidak tahu apa yang diselimuti. Setelah selesai keperluanku, aku bertanya: Apa yang engkau selimuti? Kemudian Rasulullah saw membukanya: Ternyata beliau menggendong Hasan dan Husein. Lalu beliau bersabda: “Kedua anak ini adalah puteraku dan putera dari puteriku. Ya Allah, sungguh aku mencintai keduanya, jadikan aku menyayangi dan mencintai keduanya.” (Shahih Tirmidzi 2: 240, hadis ke 3769)

3) Mengapa pasukan Ibnu Yazid dan Ibnu Ziyad memerangi Al-Husein (as)? Dan akankah kita kaum muslimin bersikap netral dalam peristiwa Karbala, sementara Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah saw:

“Barangsiapa yang mencintai Al-Hasan dan Al-Husein ia telah mencintaiku, dan barangsiapa yang membenci keduanya ia telah membenciku.” (Shahih Ibnu Majah, ttg keutamaan Al-Hasan dan Al-Husein)

Rasulullah saw juga bersabda:
“Al-Hasan dan Al-Husein adalah puteraku, barangsiapa yang mencintai keduanya ia mencintaiku, barangsiapa yang mencintaiku ia dicintai oleh Allah, dan barangsiapa yang dicintai oleh Allah ia akan masuk surga. Barangsiapa yang membenci keduanya ia membenciku, barangsiapa yang membenciku ia dibenci oleh Allah, dan barangsiapa yang dibenci oleh ia akan masuk neraka.” Al-Hakim berkata: Hadis ini shahih berdasarkan persyaratan Bukhari dan Muslim. (Mustadrak Al-Hakim 3: 166)

4) Mengapa Ibnu Ziyad menusukkan tombaknya ke mulut Al-Husein (sa) yang kepalanya sudah terpisah dari tubuhnya? Padahal Abu Ya’la bin Marrah pernah menuturkan: Sesungguhnya Nabi saw memeluk Al-Husein dan mengelus kepalanya, lalu mencium mulutnya. (Dzakhair Al-Uqba: 126)

Anas bin Malik berkata: Ketika Al-Husein (as) terbunuh, kepalanya dipersembahkan kepada Ibnu Ziyad, lalu ia menusukkan tombaknya pada gigi Al-Husein, sambil berkata: Jika Husein punya gigi muka... Aku (Anas bin Malik) berkata dalam diriku: Celaka kamu, sungguh aku melihat Rasulullah saw telah mencium mulut Al-Husein yang kamu tusuk dengan tombakmu. (Mustadrak Al-Hakim 3: 177; Ash-Shawa’iq Al-Muhriqah Ibnu Hajar, bab 11 hlm 118)

5) Bagaimana mungkin kita tidak membela Al-Husein (sa) dan mencontoh pribadinya? Sementara Abu Said Al-Khudri pernah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Al-Hasan dan Al-Husein adalah penghulu pemuda ahli surga.” (Shahih Tirmidzi 2: 306, hadis ke 3768; Musnad Ahmad 3: 3, 62 dan 82, hadis ke 10616)

6) Apakah Allah swt tidak menurunkan pertolongan terhadap Al-Husein (sa) dan rombongannya? Padahal Ibnu Abbas pernah berkata bahwa Rasulullah saw mendoakan Al-Hasan dan Husein (sa) dalam sabdanya: “Sesungguhnya orang tua kalian berdua mendoakan perlindungan bagi kalian berdua seperti doa perlindungan yang dipanjatkan oleh Ibrahim untuk Ismail dan Ishaq (as).” (Shahih Bukhari, kitab awal penciptaan; Shahih Tirmidzi1: 6, bab 18, hadis ke 2060)

Tentang mengapa para pejuang kebenaran dan keadilan kalah secara fisik? Tentu jawabannya, kekalahan itu tidak disebabkan oleh pemimpin yang suci dan para pejuang yang sejati. Tetapi oleh kondisi ummat Islam saat itu. Sekiranya ummat Islam saat itu, khususnya penduduk Kufah yang awalnya akan berbait kepada Al-Husein (sa), mereka berpihak kepadanya, tentulah missi Al-Husein (sa) akan tegak di muka bumi secara fisik dan ruhani, dan nasib ummat Islam tidak seperti sekarang ini. Sebagaimana yang dicatat oleh sejarah bahwa missi Al-Husein (sa) hanya didukung dan disertai tidak lebih dari 73 orang, itu pun sebagian mereka terdiri dari wanita dan anak-anak kecil.

Jika kita masih bersikeras mempersoalkan Allah swt Maha Kuasa memberi pertolongan dan kemenangan, maka jawabannya hampir sama dengan mengapa pasukan Islam menderita kekalahan dalam perang Uhud, padahal di situ ada orang yang paling dicintai oleh Allah swt yaitu Rasulullah saw, bahkan hampir-hampir beliau menjadi korban akibat perebutan harta rampasan dari pihak pasukan Islam.

Jadi, di sini jelas bahwa kekalahan dalam perjuangan kebenaran dan keadilan adalah disebabkan oleh pengkhianatan, kemunafikan, kegilaan terhadap jabatan, kerakusan terhadap dunia, dan mental setengah hati alias netral.

Jika dalam perjuangan Islam ada orang-orang yang bermental seperti itu, maka yang akan menjadi korban adalah pemimpin yang suci dan para pejuang yang sejati. Jika kita ingin menegakkan Khilafah Islamiyah, maka benahi dulu mental para pejuangnya. Agar Khilafah Islamiyah tidak dijadikan pembungkus kezaliman dan penindasan seperti yang dibangun oleh Yazid bin Muawiyah dan Ibnu Ziyah.

Dalam perjuangan dibutuhkan pemimpin yang berani, cerdas dan suci. Yang didukung oleh para pejuang yang sejati, memiliki pandangan yang luas dan berhati bersih, tidak berkhianat, tidak gila jabatan dan tidak racus terhadap dunia. Jika mental ini belum menghunjam ke dalam pikiran dan hati kaum muslimin, maka jangan diharapkan Khilafah Islamiyah yang sebenarnya akan tegak di muka bumi.

Kita harus banyak belajar dari peristiwa sejarah. Bukankah kita menyaksikan betapa banyak korban para pejuang Palestina dan ummat Islam di sana. Mengapa hingga sekarang ummat Islam tidak mampu melumpuhkan kekuatan Israil padahal secara kwantitas jumlahnya jauh lebih kecil ketimbang ummat Islam? Mengapa para pejuangan kebenaran dan keadilan di Indonesia juga tidak mampu menghancurkan kezaliman dan penindasan padahal nurani rakyat kecil mendambakan keadilan dan kesejahteraan? Jawabannya sama, sunnatullah itu berlaku dari dulu hingga sekarang, dan dimana saja. Allah swt berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu bangsa, sehingga mereka merubah mental mereka." (Ar-Ra'd: 11)

Kondisi Ekonomi dan Dosa


Di antara masalah ekonomi yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan dosa adalah:

1. Kekayaan dan harta
2. Kefakiran dan kemiskinan

Harta dapat menjadi sarana yang sangat efektif untuk ibadah dan ketaatan kepada Allah, membantu hamba-hamba-Nya yang membutuhkan, dan perjuangan di jalan Allah swt. Sebagaimana hal ini telah dicontohkan oleh Sayyidah Khadijah (ra) isteri tercinta Rasulullah saw, sahabat-sahabat terdekatnya dan kaum mukminin yang dermawan. Tapi juga sebaliknya, harta dapat menjadi penyebab yang ampuh untuk menjerumuskan manusia ke lembah dosa dan kehinaan. Harta juga dapat melupakan manusia pada Tuhannya, menggoncang hidupnya dan menzalimi orang lain.

Banyak ayat Al-Qur’an yang mengisahkan tentang malapetaka yang disebabkan oleh dunia dan harta, juga tentang keberkahan dan kebahagiaan harta yang berada dalam kendali oleh orang-orang mukmin dan bertakwa.

Harta penyebab kezaliman
Allah swt berfirman:
“Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena ia memandang dirinya kaya.” (Al-‘Alaq 96: 6-7)

“Jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan pada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan di negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadap mereka ketentuan Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancurnya.” (17: 16)

“Apakah mereka tidak mengambil pelajaran betapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawahh mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.” (6: 6)

Harta sebagai ujian
Pengakuan Nabi Sulaiman (as):
“Ini adalah sebagian dari karunia Tuhanku sebagai ujian bagiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya).” (An-Naml/27: 40)

Kesombongan Qarun:
“Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmuku sendiri.” (Al-Qashash/28: 78). Ketika Nabi Musa (as) meminta Qarun agar mengeluarkan zakat hartanya sebagai perintah Allah swt, Qarun menentangnya, maka Allah swt murka padanya:

“Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Sehingga tidak ada satupun golongan yang dapat menolongnya dari azab Allah selain-Nya, dan ia bukan termasuk orang-orang yang memberi pertolongan.” (Al-Qashash/28: 81)

Janji Allah: harta sebagai karunia dan keberkahan
Allah swt berfirman:
“Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan-keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami siksa mereka karena perbuatan mereka.” (Al-A’raf/7: 96)

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di kediaman mereka ada dua kebon di sebelah kanan dan kiri. (dikatakan kepada mereka) makan dan minumlah rizki dari Tuhanmu, dan bersyukurlah kepada-Nya. Negerimu adalah negeri yang baik dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Pengampun.” (Saba’/34: 15)

Janji Allah bagi orang-orang yang tertindas
“Kami hendak memberikan karunia kepada orang-orang yang tertindas di muka bumi, dan hendak menjadikan dari mereka pemimpin dan menjadikannya pewaris bumi.” (Al-Qashash/28: 5)

Kemiskinan dan dosa
Sebagaimana kekayaan, kefakiran dapat mengantarkan manusia menjadi orang yang tawadhu’, rendah hati dan merendahkan diri di hadapan Allah Yang Maha Kaya. Juga sebaliknya, kemiskinan dapat mengantarkan manusia pada puncak dosa yaitu kekufuran, sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah saw dalam hadis yang masyhur:

“Kefakiran mendekatkan pada kekufuran.”

Imam Ali bin Abi Thalib (sa):
“Kefakiran adalah kematian yang paling besar.” (Nahjul Balaghah, hikmah 163)

“Sesungguhnya kefakiran itu dapat mengurangi agama, membingungkan akal dan mengajak pada kebencian.” (Nahjul Balaghah, hikmah 319)

“Kuburan lebih baik dari pada kefakiran.” (Fahras Al-Ghurar, bab kefakiran)

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) juga berkata:
“Sekiranya kefakiran itu berwujud, niscaya aku akan membunuhnya.”

Perintah menyelamatkan diri dari kefakiran
Rasulullah saw bersabda:
“Terlaknatlah orang yang menyandarkan seluruh kebutuhannya pada manusia.” (Furu’ Al-Kafi, jld 5, hlm 72)

Tentang pentingnya kebutuhan-kebutuhan yang pokok sebagai sarana untuk melaksanakan ibadah dan kewajiban, Rasulullah saw menyebutkan dalam sebagian doanya:

“Ya Allah, alirkan keberkahan ke dalam roti kami, jangan pisahkan antara kami dan roti, sekiranya tidak ada roti niscaya kami tidak dapat melakukan shalat, puasa dan menunaikan kewajiban-kewajiban dari Tuhan kami.” (Furu’ Al-Kafi, jld 5, hlm 73)

Mutiara Hikmah (2)


Enam golongan akan masuk neraka tanpa hisab: Pemimpin negara yang zalim, arab yang ‘ashabiyah, saudagar yang sombong, pedagang yang dusta, ulama yang dengki, dan orang kaya yang kikir.

Rasulullah saw, Mizanul Hikmah 3, bab 646.

Dengki adalah perangai yang paling rendah dan musuh negara.
Dengki tak akan dapat diobati kecuali dengan hilangnya kenikmatan dari orang lain.
Tidak pernah kulihat orang zalim seperti orang yang dizalimi oleh kedengkiannya: jiwanya selalu sakit, hatinya berduka, dan kesedihannya suatu keharusan.

Ali bin Abi Thalib (sa), Mizanul Hikmah 3, bab 845.

Orang yang dengki membahayakan dirinya sebelum membahayakan orang yang menjadi sasaran kedengkiannya, seperti iblis karena kedengkiannya mewarisi laknat pada dirinya sementara Adam (as) menjadi manusia pilihan.

Ja’far Ash-Shadiq (sa), Mizanul Hikmah 3, bab 845.

Kehancuran manusia ada dalam tiga hal: kesombongan, kerakusan, dan kedengkian. Kesombongan menyebabkan kehancuran agama, karenanya iblis dilaknat. Kerakusan musuh jiwa, karenanya Adam (as) dikeluarkan dari surga. Kedengkian adalah pusat keburukan, karenanya Qabil membunuh Habil.

Hasan bin Ali (sa), Bihârul Anwâr 78: 111.

Minggu, 02 November 2008

Pemimpin yang Zalim Penghalang Ijabahnya Doa


Sebagaimana dimaklumi bahwa umumnya kaum muslimin ketika berdoa kepada Allah swt, mereka ingin doanya diijabah oleh-Nya. Sebagian mereka memfokuskan doanya pada permohonan rizki, perlindungan, pengampunan dosa, kebahagiaan, keselamatan di dunia dan akhirat, dan lainnya. Tetapi, barangkali yang terbanyak dari kaum muslimin fokus doanya adalah rizki dalam arti materi, walaupun rizki juga meliputi ilmu, anak, dan lainnya.

Mengapa doa umumnya kita terfokus pada rizki dalam makna materi? Ini menunjukkan negeri dan pemeperintahan kita sedang dilanda krisis ekonomi. Bukan hanya krisis bahkan sudah berada diambang bahaya. Anehnya, mengapa ratusan juta bangsa kita, khusunya kaum muslimin, doanya tidak dapat merubah kondisi ekonomi? Padahal hampir setiap hari, paling tidak lima kali hari sesudah shalat berdoa dan memohon keluasan pintu rizki.

Mengapa Allah swt belum juga mengijabah doa ratusan ribu kaum muslimin? Padahal Allah swt berjanji: “Berdoalah kepada-Ku, pasti Aku ijabah doamu.” Apakah Allah swt mengingkari janji-Nya? Tentu jawabannya: Dia tidak pernah mengingkari janji-Nya.

Mari kita telusuri penyebab utamanya, khususnya yang berkait dengan rizki. Jika kita meyakini bahwa negeri kita adalah negeri yang kaya, semestinya bangsa tidak sengsara secara materi. Ini kesimpulan logika kita. Jika ternyata bangsa kita secara mayoritas berada kondisi yang sengsara, maka ini jelas ada sesuatu yang salah: Tidak punya kemampuan ilmu untuk menggali kekayaan alam kita atau karena kezaliman, kerakusan, dan lainnya?

Allamah Thabathaba’i dalam tafsirnya Al-Mizan tentang surat An-Naml: 62, mengatakan:
Allah swt berfirman:

أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَ يَكْشِفُ السُّوءَ وَ يَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأَرْضِ أَ ءِلَهٌ مَّعَ اللَّهِ قَلِيلاً مَّا تَذَكرُونَ

“Siapakah yang memperkenankan doa orang yang dalam puncak kesengsaraan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan serta yang menjadikan kamu sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan yang lain? Amat sedikitlah kamu mengingat-Nya. “(An-Naml: 62)

Berdasarkan kontek kalimatnya, ayat ini mengkaitkan ijabahnya doa orang-orang yang sangat sengsara dengan kekhalifahan dan kepemimpinan di muka bumi. Yakni apakah kepemimpinan itu berdasarkan kehendak Ilahi atau hawa nafsu manusia. Makna dikuatkan oleh firman Allah swt:

وَ إِذْ قَالَ رَبُّك لِلْمَلَئكَةِ إِنى جَاعِلٌ فى الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَ تجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَ يَسفِك الدِّمَاءَ وَ نحْنُ نُسبِّحُ بحَمْدِك وَ نُقَدِّس لَك قَالَ إِنى أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah: 30)

Sebagaimana kita maklumi bahwa kebijakan seorang pemimpinan akan berdampak luas pada kehidupan manusia. Sehingga kesusahan, kesulitan dan penderitaan sangatlah berkait erat dengan kebijakan seorang pemimpin.

Ketika rakyat berada dalam puncak kesengsaraan, mereka berdoa kepada Allah swt, bergantung dan berlindung kepada-Nya agar mereka terlepas dari kesengsaraan. Di sini siapakah yang menjadi penghalang? Pemimpin yang zalim, sistem dan kebijakannya, atau rakyatnya juga terlibat dalam kezaliman.

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) pernah mengatakan: “Tidak akan terjadi kezaliman kecuali ada kerjasama antara yang menzalimi dan yang mau dizalimi.”

Pernyataan Imam Ali (sa) ini sangatlah logis, yakni khususnya di negeri yang menganut system demokrasi. Siapakah yang memilih pemimpin yang zalim? Jawabannya moyoritas rakyat yang dizalimi. Secara logis rakyat yang memilihnya, mereka ikut andil dalam kezaliman. Na’udzulullah, semoga kita tidak termasuk di dalamnya. Yakni dosa politik yang berdampak luas menyengsarakan ratusan juta manusia.

Jika kita terlibat dalam kezaliman sistem dan kebijakan, yakni terlibat memilih pemimpin yang zalim. Maka, kita juga andil dalam dosa yang menyengsarakan ratusan juta manusia, terlibat juga menjadi penghalang ijabahnya doa orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam memohon kepada Allah swt. Lalu apa alasan kita kelak di hadapan Mahkamah Agung Ilahi? Sudahkan kita mempersiapkan jawabannya? Di sana tidak ada peluang sedikitpun untuk merekayasa jawaban, apalagi melobi dari pintu belakang. Semua jiwa dan raga kita akan menjadi saksi, juga kawan dan lawan, kerabat dan sahabat yang mengetahui prilaku kita di dunia. Bahkan orang terdekat kita juga akan menjadi saksi yaitu anak dan isteri.

Dosa yang menyengsarakan ratusan juta manusia dan orang-orang yang dicintai Allah swt, dan menghalangi doa mereka, jelas itu adalah dosa besar yang sulit diampuni dan tak mudah dibukakan pintu taubat, kecuali mereka yang disengsarakan dan dizalimi memaafkan. Akankah mereka memaafkan? Belum lagi mereka yang sudah meninggal. Sepanjang mereka tidak memaafkan, maka Allah swt tidak mengampuninya dan tidak membukan pintu taubat baginya.

Kembali pada ijabahnya doa. Allah swt berjanji pada hamba-Nya:

ادْعُونى أَستَجِب لَكمْ

“Berdoalah kepada-Ku, pasti Aku ijabah doamu.” (Al-Mukmin: 60)

وَ لَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَ اتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيهِم بَرَكَتٍ مِّنَ السمَاءِ وَ الأَرْضِ وَ لَكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَهُم بِمَا كانُوا يَكْسِبُونَ

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi mereka
mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka.” (Al-A’raf: 96)

Sehubungan dengan surat An-Naml: 62, Allamah Thabathaba’i mengutip riwayat dari tafsir Al-Qumi:
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Ayat ini turun berkait dengan kepemimpinan Al-Mahdi (sa) dari keluarga Muhammad saw. Demi Allah, orang yang dalam kesusahan, apabila ia melakukan shalat dua rakaat dalam kondisi itu dan berdoa kepada Allah azza wa jalla, niscaya Dia mengijabah doanya dan menghilangkan kesusahan, dan Dia menjadikan Al-Mahdi (sa) seorang khalifah di bumi.”