Senin, 27 Oktober 2008

Mengenang 13 Rajab: Persalinan Monumental

Lelaki tua yang kini menjadi sesepuh Mekkah dan penanggung jawab Ka’bah itu tampak lesu dan parasnya melampirkan selembar duka. Ia sedang berdiri seraya mendongakkan wajah dan menengadahkan tangan, menumpahkan keluhnya kepada Tuhan sesembahan Ibrahim dan Ismail tentang derita yang merundung istrinya menjelang persalinan.

Ia agak tersentak saat suara wanita menghampiri kendang telinganya, “Ada apa dengan Anda?

“Oh…Fatimah sedang mengalami kesulitan untuk melahirkan bayinya,” sahutnya sedikit tersengal mengeluhkan istrinya.

Parasnya yang biasanya berpendar kini murung. Cambangnya yang mulai abu-abu lembab bagai jerami diguyur rinai embun. Matanya yang sembab menerawang ke angkasa seakan menanti sebuah jawaban spontan, mengharapkan sebuah keajaiban!

Lelaki itu kembali ke rumahnya dengan langkah tergesa-gesa. Keponakannya yang berusia 30 tahun, yang sejak bayi diangkatnya sebagai anak, menyambut lalu merangkulnya untuk berbagi kesedihan. Ia pun menjulurkan tangan untuk membantu pamannya bangkit dari lantai. Wajah lelaki setengah tua itu sedikit lega melihat putra saudaranya, Abdullah, yang selalu setia menemaninya dalam mengarungi hidup yang serba kurang.

Abu Thalib terlelap akibat letih yang tak tertahankan. Fatimah binti Asad, istrinya yang hamil tua, bergerak perlahan dan mengendap-endap meninggalkan rumah. Ia mendapat isyarat misterius untuk berjalan menuju Ka’bah.

Ia mengucapkan doa dan harapannya kepada Allah.

“Ya Allah aku adalah orang yang beriman kepada-Mu dan ajaran-ajaran para rasul-Mu. Aku mempercayai ucapan kakekku Ibrahim. Maka demi yang membangun Ka’bah, mudahkanlah persalinanku!”

Ketika rintihan Fatimah membubung ke langit seiring rasa nyeri dalam perutnya yang mencapai puncak, tiba-tiba sebuah peristiwa tak alang kepalang dahsyat terjadi; dinding rumah Tuhan itu merekah lalu secepat kilat menyedot tubuhnya, lalu tertutup kembali seperti sedia kala.

Fatimah berada dalam Ka’bah selama 3 hari. Pada hari keempat, wanita itu keluar sambil menimang bayi yang memancarkan aura malaikat, dan tak kalah dengan aura yang dipancarkan bayi yang digendong Maryam binti Imran dari balik batang pohon kurma.

Kabar gembira ini menghampiri telinga Abu Thalib. Ia dan keluarganya pun bersuka cita dan bergegas menjemput Fatimah. Di antara mereka, Muhammad adalah lelaki yang tampak paling berbahagia. Bayi sehat itu pun dipeluk lalu dibawanya ke rumah Abu Thalib.

Karena menganggap kelahiran bayi ini sebagai sebuah peristiwa mukjizat dan bayi adalah bingkisan dari langit, maka Abu Thalib pun seakan mendapatkan bisikan dari langit lalu memberinya nama yang unik saat itu, “Ali”.

Ali tumbuh mekar seiring dengan bergulirnya roda zaman. Hari demi hari bersusulan, sementara yang tertangkap oleh kedua bola matanya yang bening adalah paras-paras yang menatapnya dengan cinta dan senyum kehangatan. Di tengah orang-orang yang sering dilihat dan memberinya senyuman, sebuah paras teduh telah menyita perhatiannya. Lelaki yang berwajah sejuk bagai telaga itu adalah pemilik nama indah dan agung, Muhammad. Cinta samawi telah merangkai kedua hati manusia samawi itu dalam potret cinta ilahi yang abadi dan kudus, yang kelak akan diwartakan oleh sejarah.

Akibat krisis ekonomi yang tak terkendali, Abu Thalib yang menanggung banyak anak pun memasuki masa-masa paling sulit dalam hidupnya sebagai kepala rumah tangga. Muhammad pun mengambil langkah untuk menemui al-Abbas, pamannya yang menjadi pengusaha sukses, dan memintanya untuk turut serta dalam meringkan beban keuangan yang dipikul saudara tertuanya, yang menjadi “walikota” (pemuka) Mekkah itu dan sesepuh klan Bani Hasyim. Permohonan Muhammad pun disambutnya dengan gembira. Al-Abbas menjadikan Ja’far sebagai anak angkat dan Muhammad berjanji akan mengasuh Ali di rumahnya bersama Khadijah, sang istri.

Sejak saat itulah, Ali berada dalam curahan kasih dan cinta manusia teragung itu, yang menjadi ayah angkat sekaligus guru dan pembimbingnya. Dalam rumah di kampung bernama Salam itu, Ali yang beranjak remaja menemuka contoh sempurna dari seorang manusia yang terus ditiru dan diikutinya.

Dalam rumah sederhana itulah, Ali senantiasa menghirup aroma wangi Risalah dan menangkap cahaya Wahyu yang setiap malam memecah gelap angkasa Bakkah. Muhammad telah membuktikan dirinya kepada generasi mendatang rahasia kesuksesan yang gemilang dalam mendidik dengan mencetak seorang “Ali” sebagai contoh sempurna seorang kader, murid dan pelanjut. Ali tidak pernah melepaskan diri dari seluruh kegiatan panutannya itu sekejap pun, laksana bayangan yang senantiasa mengikutinya. Setiap hari ia dituntun Muhammad bertawaf di Ka’bah. Dan setiap tahun Ali dengan senang hati menemani Muhammad menempuh perjalanan panjang untuk menjalani ritus khusus dan kontemplasi di Gunung Hira, yang hanya bisa menampung dua orang.

Ali yang kini telah menjadi remaja dan menunjukkan talenta kecerdasan yang luar biasa terus memperhatikan sepak-terjang dan gerak-gerik idolanya saat melakukan perenungan dan penyucian jiwa. Muhammad pun tak henti-hentinya memperhatikan dan mengawasi kemajuan dan perkembangan spiritual serta intelektual anak didiknya itu setiap hari. Muhammad telah memantulkan cahaya samawinya kepada Ali melalui perubahan perilaku dan kematangan ruhaninya yang kian tampak jelas. (Cuplikan dari buku “Haydar, Sang Pangeran Langit” karya Muhsin Labib )

Debat Imam Ridha as dengan Agamawan Katolik dan Yahudi (Bagian 1)

Catatan redaksi: Dalam memperingati hari lahir (wilâdah) Imam Ali bin Musa ar-Ridha as, redaksi akan memuat sebagian peri kehidupan manusia mulia ini, yang salah satunya adalah kisah Imam dalam menyikapi berbagai persoalan, arus pemikiran, dan keyakinan yang berkembang pada masanya. Kisah kali mengetegahkan perdebatan Imam dengan agamawan Katolik dan Yahudi, yang sengaja dihadirkan al-Makmun, penguasa Abbasiyah saat itu, untuk menguji Imam.

Kisah yang dinukil dari kitab Bihâr al-Anwâr ini diriwayatkan oleh Hasan bin Muhammad al-Nufali yang berkata, “Al-Makmun memerintahkan Fadhl bin Sahl untuk mengumpulkan para alim (ashhab al-maqalat) seperti orang Katolik (Jatsaliq), Yahudi, para sesepuh Sabean, Hirbidz al-Akbar, para penganut Zoroaster, Nastas al-Rumi, dan para teolog. Fadhl bin Sahl pun mengumpulkan mereka dan memberitahu al-Makmun bahwa mereka sudah berkumpul.

Al-Makmun berkata, ‘Bawa mereka ke hadapanku.’ Fadhl melakukannya. Al-Makmun menyambut mereka lalu berkata kepada mereka, ‘Aku mengumpulkan kalian di sini untuk kebaikan, dan aku ingin kalian berdebat dengan sepupuku dari Madinah yang telah datang di hadapanku. Datanglah ke sini besok pagi, dan jangan ada di antara kalian yang lalai.’ Mereka berkata, ‘Kami dengar dan kami taat, wahai Amirul Mukminin! Kami akan berada di sini besok pagi...’

Keesokan paginya, Fadhl bin Sahl datang kepada Imam Ridha as dan berkata, ‘Semoga aku menjadi tebusanmu. Sepupumu sedang menunggumu. Orang-orang telah berkumpul. Bagaimana pandanganmu tentang yang datang ke hadapannya?’ Imam Ridha as berkata kepadanya, ‘Kamu mendahuluiku dan aku akan datang kepadamu, insya Allah.’ Lalu, Imam berwudhu seperti hendak melakukan salat dan ia meminum sedikit air (semacam air gandum), dan kami pun meminum air yang sama. Lalu ia berangkat dan kami berangkat bersamanya, sampai kami masuk ke hadapan al-Makmun.

Kemudian al-Makmun menoleh kepada orang Katolik seraya berkata, ‘Wahai Katolik! Inilah sepupuku, Ali bin Musa bin Ja`far, seorang keturunan Fatimah putri Nabi kami dan Ali bin Abi Thalib. Maka, aku ingin kalian berbicara dengannya dan berdebat sewajarnya.’

Katolik berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin! Bagaimana aku bisa berdebat dengan seseorang yang bersandar pada sebuah kitab yang aku tolak dan kepada nabi yang aku tidak beriman kepadanya?’

Imam Ridha as berkata kepadanya, ‘Wahai Kristiani! Jika aku berdebat denganmu lewat Injilmu, akankah kamu mengakuinya?’

Katolik itu berkata, ‘Dapatkah aku menolak apa yang dibicarakan di dalam Injil? Ya, demi Tuhan. Aku akan mengakui sekalipun aku tidak menyukainya.’

Imam Ridha as berkata kepadanya, ‘Tanyakanlah apa saja yang melintas di pikiranmu, dan pahamilah jawabannya.’

Katolik itu berkata, ‘Apa yang kamu katakan tentang Yesus dan kitabnya? Apakah kamu mengingkarinya?’

Imam Ridha as berkata, ‘Aku mengakui kenabian Yesus dan kitabnya, dan kabar gembira kepada umatnya yang kepadanya para rasul juga mengakuinya. Dan aku mengingkari kenabian Yesus yang tidak mengakui kenabian Muhammad saw dan kitabnya dan yang tidak memberi kabar gembira tentangnya (Muhammad) kepada umatnya.’

Katolik itu berkata, ‘Bukankah hal ini berarti kamu memandang suatu keputusan dari dua saksi yang adil dan tegas?’

Imam Ridha berkata, ‘Ya.’

Katolik berkata, ‘Maka bawalah dua saksi bagi kenabian Muhammad dari suatu umat selain umatmu yang tidak ditolak oleh umat Kristen, dan mintalah kepada kami yang seperti itu dari umat selain umat kami.’

Imam Ridha as berkata, ‘Sekarang kamu adil, wahai Kristiani! Apakah kamu tidak menerima orang-orang adil kami terdahulu yang berada bersama al-Masih, Yesus putra Maryam?’

Katolik berkata, ‘Siapakah orang adil itu? Beritahu aku namanya?’

Imam Ridha as berkata, ‘Apa yang kamu katakan tentang Yuhanna Daylami (Yohanes)?’

Katolik berkata, ‘Baik! Kamu telah menyebut orang yang paling mencintai al-Masih.’

Imam Ridha berkata, ‘Aku bersumpah kepadamu, tidakkah Injil mengatakan bahwa Yohanes berkata, ‘Al-Masih memberitahuku tentang agama Muhammad al-Arabi dan dia memberiku kabar gembira tentangnya, bahwa dia akan datang sepeninggalnya; lalu aku memberi kabar gembira tentangnya kepada para rasul, maka aku beriman kepadanya?’[1]

Katolik itu berkata, ‘Yohanes menyebutkan ini dari al-Masih dan ia memberi kabar gembira tentang kenabian seseorang dan tentang bangsanya serta wakilnya. Namun, ia tidak menetapkan kapan ini akan terjadi dan ia tidak menyebutkan nama orang ini kepada kami sehingga kami dapat mengakuinya.’

Imam Ridha as berkata, ‘Jika kami membawa seseorang yang membaca Alkitab dan ia membacakannya bagimu penyebutan Muhammad dan bangsanya serta umatnya, akankah kamu beriman kepadanya?’

Ia berkata, ‘Sungguh.’

Imam Ridha as berkata kepada Nastas al-Rumi, ‘Bagaimana ingatanmu terhadap Alkitab?’

Ia berkata, ‘Aku tidak mengingatnya.’

Lalu Imam Ridha menoleh kepada Ra’sul Jalut (Yahudi) dan berkata, ‘Tidakkah kamu membaca Alkitab?’

Ra’sul Jalut (Yahudi) berkata, ‘Ya, demi jiwaku.’

Imam Ridha berkata, ‘Bacakanlah Alkitab untukku. Jika penyebutan Muhammad dan bangsanya serta umatnya ada di dalamnya, bersaksilah kepadanya untukku, dan jika tidak ada, maka jangan bersaksi untukku.’

Lalu ia membaca Alkitab sampai tiba pada penyebutan (nama) Nabi saw ia berhenti.

Kemudian Imam Ridha berkata, ‘Wahai Kristiani! Aku bertanya kepadamu, demi hak al-Masih dan ibunya, apakah kamu tahu bahwa aku mengetahui Injil?’

Katolik itu berkata, ‘Ya.’ Lalu ia membacakan bagi kami penyebutan Muhammad, bangsanya, dan umatnya.

Lalu Imam Ridha berkata, ‘Apa yang hendak kamu katakan wahai Kristiani? Inilah ucapan Yesus putra Maryam. Jika kamu mengingkari apa yang dikatakan di dalam Injil, maka kamu mengingkari Musa dan Yesus, salam atas mereka, dan bila kamu mengingkari penyebutan ini, maka kamu akan menjadi orang yang kafir kepada Tuhanmu, nabimu, dan kitabmu.’

Katolik itu berkata, ‘Aku tidak akan mengingkari apa yang jelas bagiku di dalam Injil. Aku akan mengakuinya.’

Imam Ridha berkata, ‘Bersaksilah kepada apa yang telah ia akui.’ Lalu ia berkata, ‘Wahai Katolik! Tanyakanlah apa saja yang melintas dalam pikiranmu.’

Katolik berkata, ‘Beritahukan kami tentang para rasul Yesus putra Maryam. Berapa jumlah mereka? Dan berapa orang alim dalam Injil?’

Imam Ridha as berkata, ‘Kamu telah datang kepada orang yang tahu. Mengenai rasul, mereka berjumlah dua belas orang, dan yang paling mulia dan paling berilmu di antara mereka adalah Lukas. Mengenai orang alim Kristen, mereka ada tiga orang: Yohanes Agung dari Ajj, Yohanes Qirqisa, dan Yohanes Daylami dari Zijar, dan yang terakhir inilah yang menyebutkan Nabi saw, bangsanya, dan umatnya, dan adalah dia pula yang membawa kabar gembira tentangnya kepada umat Yesus dan kepada Bani Israil.’

Lalu Imam Ridha as berkata kepadanya, ‘Wahai Kristiani! Sesungguhnya kami sungguh-sungguh, demi Allah, beriman kepada Yesus yang beriman kepada Muhamamd saw dan kami tidak membenci apa pun tentang Yesusmu kecuali kelemahannya dan sedikitnya ia berpuasa dan berdoa.’

Katolik berkata, ‘Demi Allah! Kamu merusak ilmumu dan melemahkan urusanmu. Aku membayangkan tidak ada yang kurang darimu dan bahwa kamu adalah orang yang paling berilmu di antara umat Islam.’

Imam Ridha as bertanya, ‘Bagaimana bisa begitu?’

Katolik menjawab, ‘Karena kamu mengatakan tentang Yesus yang lemah dan sedikit berpuasa dan berdoa, padahal Yesus tidak pernah membatalkan puasanya dan tidak tidur semalam pun; ia terus-menerus berpuasa dan tidak tidur.’

Imam Ridha as bertanya lagi, ‘Maka, untuk siapakah ia berpuasa dan berdoa?’

Katolik itu tercengang dan berhenti berbicara.

Imam Ridha berkata, ‘Wahai Kristiani! Aku ingin bertanya kepadamu tentang suatu persoalan.’

Katolik berkata, ‘Tanyalah. Jika mengetahuinya, aku akan menjawabmu.’

Imam Ridha as berkata, ‘Mengapa kamu menyangkal bahwa Yesus menghidupkan orang yang mati dengan seizin Allah Azza wa Jalla?’

Katolik itu berkata, ‘Aku menyangkalnya karena barangsiapa yang menghidupkan orang mati dan mengobati orang buta serta lepra adalah tuhan yang berhak disembah.’

Imam Ridha berkata, ‘Elia juga melakukan hal-hal seperti yang Yesus lakukan: berjalan di atas air, menghidupkan orang mati, dan menyembuhkan orang buta serta lepra, tetapi umatnya tidak menjadikannya sebagai Tuhan, dan tidak seorang pun dari mereka yang menyembahnya alih-alih menyembah Allah Azza wa Jalla. Dan Nabi Yehezkiel juga melakukan hal serupa seperti Yesus putra Maryam karena beliau menghidupkan 35.000 orang setelah mereka mati selama enam puluh tahun.’[2]

Bersambung…


[1]Lihat Yohanes 1:19-25; 14:26; 15:26; 16: 7-14
[2]Lihat Yehezkiel 37:1-13

‘Demi Tuhan Ka’bah, Aku sungguh beruntung’ (Ali bin Abi Thalib)

Pada tanggal 19 Ramadhan 40 H, di saat fajar menjelang, ketika Ali bin Abi Thalib bersiap-siap memimpin pasukan menuju Shiffin untuk kembali memerangi Muawiyyah, Abdul Rahman bin Muljam Muradi mengunjamkan belati ke dadanya di mihrab masjid Kufah ketika hendak memimpin shalat subuh. Beliau syahid tiga hari kemudian yaitu pada tanggal 21 Ramadhan 40H. Inna lillah wa inna ilahi rajiun.

Menurut riwayat Ibnu Sa’ad, tiga orang Khawarij bernama Abdul Rahman bin Muljam, Burak bin Abdullah Tamimi dan Amru bin Bukair Tamimi telah bersumpah di Makkah untuk membunuh Imam Ali as, Muawiyyah dan Amru bin Ash. Untuk mengunjungi sahabat Khawarijnya, Abdul Rahman pergi ke Kufah. Ketika dia dalam perjalanan untuk menemui sekelompok bani Taim ar-Rabab, dia melihat seorang gadis bernama Qutsam binti Syajannah bin Adi yang ayah dan saudara-saudaranya telah terbunuh dalam perang Nahrawan. Ketika Ibnu Muljam melamarnya, dia meminta mahar sebesar 3000 (Dinar!) ditambah pembunuhan atas Imam Ali. Dia pernah bercerita karena alasan inilah dia tanpa rencana sebelumnya datang ke Kufah. Dia membubuhi pedangnya dengan racun lalu menyerang kepala Imam Ali. Akibat dalamnya luka yang diderita beliau ditambah dengan racun yang dibubuhkan di pedang itu menyebabkan syahidnya beliau. Berdasarkan riwayat, pada malam pembunuhan itu, Ibnu Muljam ada di rumah Asy’ats bin Qais.

Berbagai riwayat menunjukkan bahwa Imam diserang Ibnu Muljam saat berada di dalam Masjid. Menurut riwayat lainnya, beliau diserang saat membangunkan orang-orang untuk shalat subuh. Banyak sumber sejarah mendukung pernyataan pertama begitupun riwayat yang menyebutkan bahwa beliau diserang ketika sedang melakukan shalat. Maitsam bin Tammar meriwayatkan bahwa Imam baru saja memulai shalat subuh. Tidak lama kemudian, saat beliau sedang membaca sebelas ayat dari Surah Nabi, Ibnu Muljam menyerang dan melukai kepala beliau.Menurut riwayat dari keturunan Ju’dah bin Hubairah, Imam terluka saat sedang melakukan shalat. Orang yang disebutkan tadi, yaitu Ju’dah, adalah putera dari Ummu Hani (saudari Imam) yang sering mengimami shalat menggantikan Imam dan diriwayatkan bahwa dia yang melanjutkan shalat ketika Imam as terluka akibat serangan Ibnu Muljam. Syekh Thusi juga menguatkan riwayat di atas. Namun, Muttaqi Hindi melaporkan bahwa Ibnu Muljam menyerang Imam saat Imam kembali sujud. Ibnu Hanbal maupun Ibnu Asakir menguatkan riwayat ini. Ibnu Abdil Barr mengatakan bahwa tidak ada kesepakatan tentang apakah Imam diserang ketika sedang melaksanakan shalat atau sebelumnya dan apakah ada yang menggantikan Imam memimpin shalat atau Imam sendiri yang mengimami shalat sampai selesai. Banyak pendapat menyatakan bahwa Imam meminta Ju’dah menjadi imam untuk melanjutkan shalat yang belum selesai.

Sejumlah besar hadis telah diriwayatkan dari jalur ahlulbait maupun sunah mengenai perasaan Imam pada malam sebelum terjadinya peristiwa itu. Ibnu Abi Dunya mengutip Imam Baqir berkata bahwa Imam sangat menyadari syahadah akan menjemputnya. Begitu terluka, Imam langsung berseru,

فُزْتُ وَ رَبِّ الْكَعْبَةِ

“Demi Tuhan Ka’bah, aku sungguh beruntung.”

Ibnu Abi Dunya juga telah meriwayatkan wasiat Imam dari beberapa jalur sanad termasuk wasiat tentang keuangan dan pesan-pesan agama. Pesan paling penting yang diwanti-wanti oleh Imam adalah sebagai berikut:

“Peliharalah hubungan kekerabatan, perhatikanlah fakir miskin dan tetangga, ikutilah tuntunan al-Quran, dirikanlah shalat sebagai tiang agama, haji, puasa, jihad, zakat menurut ajaran ahlulbait nabi yang maksum, layanilah hamba-hamba Allah, laksanakanlah yang makruf dan cegahlah kemungkaran. Diriwayatkan, pada tanggal 21 Ramadhan menjelang wafatnya, beliau menggumamkan zikir “لا إله إلا الله” (Tidak ada tuhan selain Allah) lalu beliau membaca ayat,

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Barangsiapa membuat kebajikan seberat zarrah dia akan melihat buah kebajikannya, dan barangsiapa melakukan kejahatan seberat zarrah dia akan melihat buah kejahatannya.
(QS. al-Zalzalah:7-8) dan menghembuskan nafas terakhirnya.

Menurut riwayat lain, setelah syahadah Imam, Imam Hasan as, Imam Husain as, Muhammad bin Hanafiyyah, Abdullah bin Ja’far dan beberapa orang anggota keluarga ahlulbait membawa jenazah Imam keluar dari kota Kufah di malam hari dan menguburkan beliau secara rahasia. Ini dilakukan mengingat kaum Khawarij dan pengikut Umayyah dikhawatirkan akan menggali kuburan Imam.

Thabaqât al-Kubrâ:3/35-38
Maqtal al-Imâm Amîr al-Mu’minîn :36/13
Ibid. 29, no. 4; 35 no. 12
Ibid. 28,33 no.11
Ibid. 30 no.5
Ibid. 30 no.6
al-Amâli:3/18
Kanz al-`Ummâl:17/170 (edisi kedua); al-Amâli fî Âtsâr ash-Shahab:103-104
al-Fadâ’il:38/63 (terbetin Qum)
Tarjamât al-Imâm `Alî bin Abî Thâlib:3/361 (edisi kedua)
Al-Isti`âb (catatan pinggir Ishâbah):3/39
Al-Isti`âb:33-34 ni.12; Abu Nu1aim bersama beberapa ahli hadis lainnya meriwayatkan bahwa Nabi saw telah menubuatkan kesyahidannya. Ma’rifat ash-Shahabah:1/295-296
Ibid. 39 no. 20; catatan kaki, Imâmah wa as-Siyâsah:160, Anshâb al-Asyrâf:2/499
Maqtal al-Imâm Amîr al-Mu’minîn:45-46
Ibid. 79 no.68

Imam Mahdi dan Masalah Penantian

KEPERCAYAAN pada konsep dan eksistensi Imam Mahdi agaknya sudah menjadi kepercayaan umum, baik di kalangan Islam maupun non-Islam, baik Ahlusunnah maupun Syi'ah. Hal ini dapat dibuktikan dari berbagai kajian ilmiah yang terbit di Tanah Air. Yang menjadi objek perselisihan di kalangan umat Islam adalah masalah penetapan identitas Imam Mahdi itu sendiri.

Setidaknya ada dua versi ihwal jatidiri juru selamat dunia ini. Sebagian besar golongan Ahlusunnah menganggap bahwa Imam Mahdi itu bernama Muhammad bin Abdullah, yang akan muncul menjelang hari kiamat tiba. Ini berdasarkan sebuah hadis dari Nabi saw yang mengatakan bahwa ?nama Imam Mahdi itu sama dengan namaku, ayahnya sama dengan nama ayahku.?

Sementara, di pihak lain, kalangan Syi'ah Imamiyah meyakini bahwa Imam Mahdi itu adalah gelar untuk Muhammad bin Hasan Askari bin Ali Hadi bin Muhammad Jawad bin Ali Ridha bin Musa Kazhim bin Jafar Shadiq bin Muhammad Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah saw. Ulama Sunni yang mengurutkan dua belas imam dari jalur Ahlulbait ini adalah Syekh Qanduzi al-Hanafi dalam kitab Yanabi al-Mawaddah. Lebih rinci tentang masalah ini dapat pembaca simak dalam berbagai buku yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Selebihnya di luar maksud tulisan ini.

Kegaiban Imam Mahdi

Imamiyah meyakini bahwa imam kedua belas mereka ini mengalami dua kegaiban: kegaiban pendek (ghayb shughra) dan kegaiban panjang (ghayb kubra). Kegaiban pertama dimaksudkan, di antara beberapa alasan, untuk menghindari terjadinya pembunuhan pada diri Imam Mahdi, yang kabar tentang kelahirannya telah masyhur di kalangan umat Islam, termasuk penguasa Bani Abbasiyah saat itu. Mereka memata-matai rumah Imam Hasan Askari yang dinubuatkan sebagai tempat kelahiran Imam Mahdi. Alasan lain adalah untuk mempersiapkan umat Syi'ah dalam menerima otoritas ulama yang kompeten selama kegaiban beliau.

Pada masa kegaiban pendek, umat Syi'ah menyampaikan masalah-masalah mereka kepada wakil khusus Imam as, yang terkenal sebanyak empat orang. Empat wakil ini kemudian menyampaikan permasalahan tersebut kepada Imam Mahdi as. Pasca kegaiban pendek, yang ditandai dengan berakhirnya perwakilan khusus Imam, akhirnya umat Syi'ah terbiasa untuk menerima kepemimpinan ulama mereka dalam kegaiban panjang ini. Dari sini, setidaknya bisa dilacak konsep kemarjaan (marja'iyyat) dalam Dunia Syi'ah yang begitu established, khususnya setelah kaum ushuli mendominasi wacana ilmiah Syi'ah.

Taklif-taklif Di Masa Kegaiban Panjang

Taklif terpenting di masa kegaiban panjang, yang bisa disimpulkan dari hadis-hadis, adalah masalah penantian (intizhar al-faraj) itu sendiri. Dalam masa penantian ini, ada beberapa kewajiban seperti berikut.

Pertama, penguatan terhadap keyakinan mengenai pemimpin di masanya, kegaibannya, kepastian mengenai kemunculannya, dia hidup dan memperhatikan segala urusan, mengetahui segala perbuatan manusia, kondisi yang mereka hadapi, serta beliau menanti terkumpulnya syarat-syarat yang dibutuhkan untuk kemunculannya. Untuk mendalami pengetahuan-pengetahuan ini, harus dibangun berdasarkan bukti-bukti naqli (nas-nas baik berupa al-Quran maupun hadis) yang sahih dan argumentasi-argumentasi akal yang sehat.

Kita akan menjumpai hadis-hadis mengenai kewajiban penantian ini melalui contoh-contoh lainnya. Lebih-lebih hal ini dapat kita jumpai melalui doa-doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca pada masa kegaiban dan sangat ditekankan untuk melakukan kewajiban ini serta mengukuhkan pengetahuan terhadap Imam.

Satu contoh, Kulaini dalam kitab Al-K?f?, meriwayatkan dari Zurarah, bahwa Imam Ja'far Shadiq as berkata, ?Sesungguhnya bagi Al-Qaim terjadi kegaiban?dia adalah orang yang dinanti-nantikan, dia adalah orang yang kelahirannya diragukan.? Zurarah berkata, ?Aku menjadi tebusanmu, jika aku mendapat kesempatan mengalami masa itu, apa yang harus aku lakukan??

Imam menjawab, ?Wahai Zurarah, jika kau mendapati masa tersebut, maka berdoalah dengan doa ini, 'Ya Allah, perkenalkan Diri-Mu padaku, jika Kau tidak mengenalkan diri-Mu, maka aku tidak mengenal Rasul-Mu. Ya Allah, perkenalkan kepadaku Rasul-Mu, Jika Kau tidak mengenalkan Rasul-Mu kepadaku, maka aku tidak mengenal hujjah-Mu. Ya Allah, perkenalkan hujjah-Mu kepadaku, jika Kau tidak memperkenalkan kepadaku hujjah-Mu, maka aku akan tersesat dalam agamaku ?'

Kedua, mengokohkan hubungan batin dengan Imam Mahdi as, berperan aktif sesuai dengan tujuan-tujuan mulia beliau dan mempertahankannya serta memiliki ikatan batin yang dalam dengan kepemimpinan beliau. Hal-hal seperti inilah yang merupakan kewajiban secara umum yang dikuatkan dan disebutkan dalam berbagai hadis.

Misalnya, kewajiban seorang mukmin untuk berdoa untuk beliau demi penjagaan, pertolongan dan memohon untuk dipercepat kemunculan dan kehadiran beliau, memohon kehancuran para musuhnya, bersedekah untuknya, berkesinambungan dalam berziarah kepada beliau dan lain-lainnya seperti yang telah disebutkan dalam berbagai hadis.

Menghidupkan perintah ajaran Ahlulbait as, yang mencerminkan kepada beliau-semoga Allah Swt mempercepat kemunculannya-dengan perbuatan yang dapat membahagiakan beliau seperti berbuat sesuai dengan ajaran Islam yang suci yang mendorong dirinya, menyebarluaskan pemikiran-pemikiran mereka, mengenalkan keteraniayaan yang mereka alami, ber-wil?yah kepada mereka dan berlepas diri dari musuh-musuh mereka; berbuat sesuai dengan pesan-pesan dan warisan-warisan mereka; mengedepankan upaya pembelajaran mengenai mereka; menolak untuk merujuk pada para penguasa atau pemerintah yang zalim; merujuk kepada para fakih yang adil yang dijadikan oleh para imam sebagai hujjah mereka bagi umat manusia di zaman kegaiban.

Ketiga, memperkuat poros keimanan, saling menasehati dalam kebenaran Islam yang suci dan saling menasehati dalam kesabaran. Inilah bentuk-bentuk nyata dari kewajiban-kewajiban khusus di masa kegaiban panjang.

Pentingnya Penantian

Hadis-hadis memberikan penekanan yang mendalam mengenai besarnya pengaruh penantian al-faraj yang dalam bentuk umum sesuai dengan kemunculan al-Mahdi sebagai salah satu bentuk objek yang nyata khususnya menanti kemunculan Imam. Sebagian riwayat menyifati penantian sebagai ibadah terbaik seorang mukmin sebagaimana yang diriwayatkan dari Imam Ali as, ?Ibadah seorang mukmin yang paling afdhal adalah menanti al-faraj Allah.?

Tak pelak lagi, ibadah seorang mukmin lebih baik dari ibadah seorang Muslim. Dengan demikian, menanti kehadiran Imam Mahdi adalah ibadah yang paling afdhal jika hal ini diniatkan untuk beribadah pada Allah Swt dan tidak mengharapkan sesuatu dari dunia.

Penantian terhadap kemunculan Imam Mahdi as mengukuhkan keterkaitan manusia dengan Allah Swt dan hubungannya dengan keimanan aplikatif bahwa Allah Swt Mahakuasa untuk menjalankan perintah-Nya dan sesungguhnya Dia berkuasa atas segala sesuatu. Dialah Allah yang mengatur urusan para makhluk-Nya dengan kebijaksanaannya yang penuh kasih sayang terhadap mereka.

Ibadah tidak bernilai jika tidak disandari dengan keimanan dan ketauhidan yang murni yang dikukuhkan dengan adanya penantian terhadap kemunculan Imam.

Riwayat mengatakan bahwa Imam Ja'far Shadiq as berkata, ?Akan aku sampaikan kepada kalian sesuatu yang Allah Swt tidak akan menerima amal ibadah kecuali dengan sesuatu tersebut?Kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, mengikrarkan apa yang diperintahkan oleh Allah serta ber-wil?yah kepada kami dan berlepas diri dari musuh-musuh kami-yakni khusus para imam-pasrah kepada mereka, warak, dan berupaya keras dengan penuh ketenangan serta menanti kehadiran al-Qaim??

Hakikat Penantian

Penantian adalah sebuah kondisi psikologis yang memunculkan persiapan terhadap sesuatu yang dinantikan dan lawan kata dari hal itu adalah putus asa. Setiap kali penantian meningkat, maka persiapan semakin banyak. Tidakkah Anda merasakan jika menanti seseorang yang akan datang, maka akan bertambah pula persiapan Anda ketika kedatangan seseorang itu semakin dekat. Bahkan, mungkin Anda akan mengganti riqad Anda dengan sihad karena besarnya penantian.

Dari sisi ini, setiap kali tingkatan penantian mengalami perbedaan maka terjadi pula perbedaan kecintaan terhadap orang yang Anda nantikan. Manakala kecintaan semakin besar maka bertambah besar pula persiapan menyambut kedatangan orang yang dicintai. Perpisahan dengan sang kekasih membuatnya sedih. Sampai-sampai orang yang menanti melupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan penjagaan dirinya, dia tidak lagi merasakan apa yang menimpa dirinya dari rasa sakit ataupun tekanan yang menyayat.

Seorang mukmin yang menanti pemimpinnya, manakala penantiannya semakin besar maka semakin besar pula upaya dirinya untuk mempersiapkan baik dengan berbuat warak, berupaya sungguh-sungguh, melakukan pembenahan diri, menghindari akhlak-akhlak yang buruk, menghiasi dengan akhlak-akhlak yang terpuji sehingga ia berhasil menjumpai pemimpinnya, menyaksikan keindahannya di masa kegaibannya. Sebagaimana hal ini terjadi pada sejumlah besar orang saleh.

Karena itu, para imam maksum memerintahkan para pengikut mereka, sesuai dengan yang tercantum dalam riwayat-riwayat, untuk melakukan upaya pembenahan diri dan melaksanakan segala bentuk ketaatan.

Dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Abu Bashir dari Imam Ja'far Shadiq as yang mengisyaratkan dan menunjukkan kemungkinan terjadinya keberhasilan tersebut dan pahala yang dapat diperoleh.

Beliau berkata, ?Siapa yang kebahagiaannya adalah menjadi salah seorang sahabat al-Qaim, maka hendaknya ia menanti dan beramal dengan warak, berakhlak yang baik, dan dia dalam kondisi menanti. Jika ia meninggal dan al-Qaim muncul setelahnya, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berjumpa dengan al-Qaim...?

Tak syak lagi, setiap kali penantian semakin kuat maka orang yang menanti akan mendapatkan tingkatan dan pahala yang lebih besar dari Allah Swt.

Dengan demikian, yang dimaksud dengan penantian adalah mengawasi kemunculan dan penegakan pemerintah yang kuat bagi al-Mahdi dari keluarga Nabi saw. Pemerintahan itulah yang kelak memenuhi bumi dengan keadilan dan kebahagiaan, kejayaan agama di atas agama-agama lain sebagaimana yang difirmankan Allah kepada Nabi-Nya dan menjanjikan hal tersebut.

Oleh karena itu, penantian meliputi kondisi hati yang dimunculkan oleh keyakinan dasar yang kokoh mengenai keharusan munculnya al-Mahdi yang dijanjikan. Beliaulah yang merealisasikan tujuan-tujuan para nabi dan risalah yang mereka sampaikan serta mewujudkan harapan-harapan manusia. Kondisi kejiwaan seperti ini memunculkan reaksi dalam bentuk sebuah gerakan dan perbuatan yang berporos pada persiapan dan upaya kelayakan untuk kemunculan sang juru penyelamat yang dinanti-nantikan.

Melalui penjelasan di atas, jelaslah penantian tidak dianggap benar jika tidak terkumpul tiga unsur yang berkaitan satu sama lain, yaitu keyakinan, kejiwaan, dan spiritualitas. Jika tidak memiliki ketiga unsur tersebut, maka penantian tidak memberi makna apa pun dari sebuah keimanan yang benar kecuali sebuah angan-angan yang dibangun berdasarkan logika Bani Israil yang mengatakan, ?Pergilah engkau bersama tuhanmu dan berperanglah sementara kami duduk menanti di sini.? (QS. Al-Maidah [5]:24)

Dua Bentuk Penantian

Menanti kemunculan Imam Mahdi ada dua bentuk. Pertama, penantian konstruktif yang menimbulkan sebuah gerakan dan pelaksanaan. Penantian semacam ini adalah ibadah bahkan ibadah paling afdhal. Kedua, penantian destruktif yang mencegah manusia untuk berbuat. Penantian seperti ini adalah salah satu bentuk ketidakpedulian.

Kedua bentuk penantian tersebut merupakan hasil dari pemahaman esensi kemunculan sejarah besar bagi Imam Mahdi yang dijanjikan. Sebagian menafsirkan bahwa masalah kemahdian dan kebangkitan yang dijanjikan adalah sebuah bentuk luapan tidak lebih. Hal itu muncul karena tersebarnya kezaliman, rasialis, perampasan hak-hak, dan kerusakan.

Dengan masalah kemahdian dan kebangkitan yang dijanjikan, terjadi sebuah luapan munculnya tangan-tangan gaib untuk mengangkat kebenaran. Dengan demikian, salah satu bentuk bantuan yang dapat dilakukan oleh manusia untuk mempercepat kemunculan Al-Mahdi dan merupakan bentuk terbaik dari sebuah penantian adalah (ketidakpedulian terhadap) penyebaran kerusakan.

Akan tetapi, dari ayat-ayat al-Quran dapat disimpulkan bahwa kemunculan Imam Mahdi yang dijanjikan merupakan satu bentuk upaya di antara upaya-upaya pejuang kebenaran melawan pengikut-pengikut kebatilan yang berakhir pada kemenangan mutlak pembela kebenaran. Keikutsertaan manusia untuk dapat mencapai kebahagiaan seperti ini sangat bergantung pada peran aktif mereka dan upaya penggabungan diri di barisan para pembela-pembela kebenaran.

Dari riwayat-riwayat Islam, dapat dipahami bahwa kemunculan al-Mahdi dibarengi dengan pertentangan antara kebahagiaan dan kesengsaraan pada taraf puncak. Namun, yang dimaksudkan dalam hal ini bukanlah kebahagiaan telah dihancurkan oleh kesengsaraan. Hadis-hadis yang membicarakan tentang sifat-sifat dari para pembela kebenaran yang bergabung dengan Imam sebelum kemunculannya.

Meskipun kita gambarkan bahwa mereka memiliki jumlah yang sangat sedikit, tetapi dari sisi kualitas mereka adalah orang-orang mukmin terbaik yang telah mencapai tingkatan para penolong sayyid asy-syuhada (pemimpin para syahid) Imam Husain as. Begitu pula banyak hadis yang membicarakan persiapan untuk revolusi Imam Mahdi dengan serangkaian perlawanan yang dilakukan oleh para pembela kebenaran.

Begitu pula sebagian dari riwayat tersebut juga membicarakan mengenai pemerintahan yang didirikan oleh para pembela kebenaran dan pemerintahan itu akan terus berlangsung hingga munculnya revolusi besar dunia melalui Imam Mahdi as.

Dari penjelasan di atas, jelas bahwa dalam penantian yang diinginkan oleh syariat ada sejumlah persyaratan yang tanpa persyaratan tersebut penantian tidak terealisir seperti kewajiban-kewajiban penting yang harus dilakukan pada masa kegaiban.

Syarat-Syarat Penantian

Kita dapat menyebutkan beberapa syarat-syarat penantian secara global. Syarat-syarat tersebut juga mengandung penjelasan hal-hal yang harus dilakukan oleh seorang mukmin sehingga dapat disebut sebagai para penanti sesungguhnya (muntazhir). Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut.

Pertama, Memperdalam pengetahuan tentang Imam Mahdi-semoga Allah mempercepat kemunculannya-keimanan pada imamahnya, menegakkan tugas-tugas pentingnya, mengenal perannya dalam sejarah dan sisinya, kewajiban-kewajiban yang ada di dalamnya serta peran mukmin terhadap kewajiban tersebut.

Selain itu, menguatkan hubungan dengannya dan mengukuhkan kaitan terhadap perannya dalam sejarah. Hal yang juga patut untuk dilakukan oleh seorang mukmin adalah memperkokoh keyakinan bahwa kemunculannya sangat mungkin terjadi sewaktu-waktu. Hal ini mengharuskan seorang mukmin untuk selalu siap menyambut kedatangannya sewaktu-waktu.

Kedua, Menguatkan keikhlasan di berbagai bentuk aplikasi penantian terhadap Imam Zaman dan menyucikan dirinya dari berbagai kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan materi maupun pribadi. Seorang penanti sejati hendaknya menjadikan seluruh amal persiapan dirinya dengan penuh keikhlasan pada Allah Swt, dengan niat beribadah dan upaya mencapai keridhaan-Nya. Dengan hal tersebut, maka penantian menjadi ibadah paling afdhal.

Ketiga, Upaya pembenahan diri dan persiapannya secara sempurna untuk membantu perjuangan Imam as melalui kesungguhan dalam berpegang teguh pada tsaqalain (al-Quran dan keluarga Nabi) dan berakhlak dengan keduanya sehingga dengan hal-hal tersebut seorang mukmin benar-benar menjadi pengikut Imam Mahdi as. Dengan terpenuhinya syarat-syarat kepribadian, ketuhanan, dan perjuangan, seorang mukmin mampu menjadi penolong Imam dalam merealisasikan tujuan-tujuan beliau.

Keempat, Mengupayakan sebuah gerakan pada tingkatan sosial guna mempersiapkan kemunculan Imam Mahdi as dengan cara mengajak manusia kembali pada agama Allah yang benar, mendidik para pembela Imam, dan memberikan kabar gembira dengan adanya revolusi besarnya.

Berdasarkan penjelasan di atas, jelaslah bahwa penantian yang sesungguhnya mengandung gerakan membangun dan berkesinambungan dalam kerangka persiapan kemunculan sang Juru Selamat yang dinanti-nantikan baik secara pribadi maupun sosial meskipun menghadapi kondisi yang tidak kondusif atau sangat sulit.

Imam Khomeini ?semoga Allah menyucikan ruhnya? di akhir penjelasannya yang disampaikan dalam sebuah peringatan Nishfu Sya`ban sebelum beliau wafat berkata, ?Salam sejahtera baginya (Imam Mahdi yang dijanjikan), salam sejahtera bagi para penantinya yang sesungguhnya, salam sejahtera baginya dalam kegaiban maupun kemunculannya, salam sejahtera bagi orang-orang yang menjumpai masa kemunculannya dengan hakikat yang sesungguhnya yang menghilangkan dahaganya melalui cawan hidayah dan pengetahuannya, salam sejahtera bagi bangsa Iran yang besar yang mempersiapkan kemunculannya dengan berbagai pengorbanan dan kesyahidan?.? (Shahife-Nur, hal.21)[]

Rabbi Yahudi Ortodoks: Zionis Eksploitasi Holocaust untuk Membungkam Orang

Pemimpin Komunitas Yahudi Ortodoks Austria, Rabbi Moishe Arye Friedman, yakin bahwa, “Rezim Zionis mengeksploitasi konsep Holocaust sebagai alat dan senjata untuk membungkam orang.”

Dalam wawancara dengan Mehr News Agency pada Sabtu (6/10), Friedman mengatakan, “Akar problem dari dunia ini adalah eksistensi rezim Zionis.” Ia berada di Iran saat itu untuk memenuhi undangan pemerintah Republik Islam.

Berikut ini adalah kutipan wawancara Rabbi Friedman dengan Mehr News.

Pertanyaan: Tidakkah menurut Anda perilaku Israel di Timur Tengah, khususnya terhadap Muslim di wilayah-wilayah pendudukan, menghadirkan ancaman bagi komunitas Yahudi di negara-negara lain?

Jawaban: Ketika kita berbicara mengenai Israel, maka bencana yang dihadirkan Zionis tidak terbatas hanya di negara mereka. Ini adalah sebuah rezim. Rezim Zionis tidak terkonsentrasi di dalam apa yang disebut Israel saja. Rezim Zionis secara aktual ada di banyak wilayah dari dunia ini. Untuk menuju Yerusalam—tentu saja maksud kami adalah secara fisik berada di Yerusalem—maka kita harus mengeliminasi rezim Zionis.

Rezim Zionis meliputi berbagai pemerintahan di seluruh dunia plus komunitas-komunitas Yahudi Zionis. Ketika mengatakan ‘orang Yahudi’, maka kami merujuk kepada orang-orang Yahudi yang mengikuti Musa as, yang kami miliki di seluruh dunia. Tentu saja adalah penting untuk membedakan antara orang Yahudi dengan mereka yang termasuk orang Zionis.

Pandangan dan perlakuan beberapa negara sangatlah tidak bertanggung jawab. Bagi mereka, tidak ada perbedaan antara Yahudi dan Zionis, dan pandangan ini berisiko besar. Hal ini tidak terjadi di Republik Islam Iran, yang bisa mengenali akar dari permasalahan dengan berupaya mencari tahu bagaimana mungkin rezim seperti Zionis ini bisa eksis. Sebagai contoh, orang-orang Iran kini melibatkan diri dalam isu-isu Holocaust, untuk membebaskan dunia dari konsep propaganda Holocaust yang digunakan sebagai alat untuk melegalkan kejahatan atas kemanusiaan.

Ada banyak hal yang telah dilakukan Republik Islam Iran, dan khususnya pada masa-masa kini. Menurut saya, ini adalah cara yang bertanggung jawab. Sayangnya, kita harus mengecam rezim-rezim Arab yang menoleransi Israel. Tampaknya mereka tidak berada pada jalan yang bisa dipertanggungjawabkan, dan bahkan berupaya menyesatkan publik bahwa Zionisme secara aktual merepresentasikan orang Yahudi demi melindungi kepentingan dan mempertahankan kekuasaan mereka.

Bagaimana mengenai penyelewangan Zionisme terhadap Yudaisme?

Zionisme adalah segala hal mengenai penghinaan terhadap keyakinan akan Tuhan. Bukan hanya terhadap agama orang Yahudi tetapi terhadap keyakinan kepada Tuhan di dalam seluruh agama, terutama Islam. Mereka juga memiliki kepentingan besar untuk menyimpangkan umat Kristen, gereja Katolik, dari agama tradisional mereka.

Mereka mencerabut akar dari agama-agama, berupaya mereduksi elemen-elemen historis, dan pada saat yang sama—ketika ada orang-orang yang secara independen melakukan riset dan mengkritik perilaku mereka—mereka akan melakukan segala hal untuk membendung orang-orang itu, membunuh karakter mereka, dan menyingkirkan mereka. Itu adalah tabiat kaum Zionis. Demi tujuan itu, mereka selalu menggunakan konsep Holocaust sebagai alat dan senjata mereka untuk membungkam orang-orang yang kritis terhadap mereka.

Yerusalem sudah seharusnya dibersihkan dari rezim Zionis.

Apa yang anda dan komunitas anda lakukan untuk menghadapi Israel atau Zionisme?

Menurut saya, kedatangan saya dan keluarga ke Tehran dalam terminologi praktisnya telah menyatakan sebuah contoh dari aktivitas yang kami lakukan dalam melawan Zionisme, yakni mengecam kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan terhadap kemanusiaan.

Namun, kita harus menghadapi problem ini dengan menuju langsung ke inti permasalahannya. Akar persoalan ini adalah dunia kini dihadapkan pada isu Holocaust yang didasarkan atas kebohongan. Kita harus mengatasi kebohongan-kebohongan Holocaust dari rezim Zionis, tidak ada keraguan mengenai hal ini. Semua media kini diam mengenai semua kejahatan yang dilakukan rezim Zionis dengan mengeksploitasi konsep Holocaust.

Apa pandangan anda mengenai pernyataan Presiden Ahmadinejad bahwa Barat harus mengalokasikan sebuah tanah kepada kaum Zionis sehingga mereka dapat membangun sebuah negara di sana?

Hal pertama yang harus terjadi adalah kembalinya seluruh pengungsi Palestina kepada tanah air mereka sendiri dengan segera dan tanpa syarat. Ketika mengatakan tanpa syarat, saya bermaksud tanpa prasyarat harus mengakui rezim Zionis. Bangsa Palestina harus mendapatkan hak-hak mereka tanpa harus mengakui rezim Zionis. Dengan mengakui rezim Zionis, sebenarnya kita telah melakukan hal yang kontradiktif dengan hak-hak Palestina dan hak-hak dunia Islam. Yang harus kita persoalkan bukanlah orang yang memang berasal dari Palestina tetapi mereka yang justru datang dari Polandia, Rusia, dan tempat-tempat lainnya. Dengan mengeksplotasi konsep Holocaust mereka datang ke tanah suci ini untuk menyingkirkan orang-orang lain. Langkah pertamanya, mereka harus kembali ke tempat mereka berasal. Saya benar-benar tidak memahami logika dan posisi orang-orang Eropa dan Amerika yang menentang pendekatan dan inisiatif Presiden Ahmadinejad, yang menyarankan agar Zionis kembali ke Eropa atau Amerika karena bagaimanapun orang-orang Eropa kini mengorbankan ekonomi mereka bagi orang-orang Yahudi yang menjadi kolega orang-orang Israel yang ada di Palestina. Mereka (Eropa) bahkan terkadang mengorbankan keamanan nasional mereka sendiri. Mereka tidak hendak mengimplementasikan hukum dan ketertiban terhadap orang-orang Yahudi di negara-negara mereka sendiri. Jadi apa persoalannya jika orang-orang Yahudi harus kembali ke sana? Tidak ada masalah mengenai hal itu.

Sebagai hasil dari Perang Dunia Kedua, melalui cara yang sangat tidak adil, setidaknya sepertiga wilayah Polandia dan 34 persen wilayah Republik Ceko, sebagai contoh, kini menjadi wilayah Jerman yang mereka rampas secara tidak adil, dan mereka tidak melakukan apa pun mengenai hal itu. Jadi, tidak ada persoalan untuk memberikan beberapa wilayah kepada orang-orang Yahudi Zionis di sana (Eropa).

Apa pandangan anda mengenai pidato Ahmadinejad di Universitas Colombia tentang Holocaust?

Persoalan yang Presiden Ahmadinejad nyatakan dan persoalan-persoalan yang pemimpin-pemimpin Iran, Imam Khomeini dan Ayatullah Khamenei, sebutkan adalah isu-isu yang sudah diketahui sebelumnya. Namun, kita hidup di dunia yang dibungkam oleh dominasi media Zionis yang luar biasa mengerikan. Pada kenyataannya, Presiden Ahmadinejad hendak menghancurkan tabu-tabu itu. Dan dia telah menunaikan misi itu di sana (New York—red). Kini dunia mulai menyadari bahwa ternyata rezim Zionis tidak terkonsentrasi di tanah suci (Yerusalem—red). Akar problem ini sebenarnya adalah rezim Zionis di mana pun. Komunitas Yahudi Zionis sangatlah agresif. Mereka bahkan tak sungkan meracuni masyarakat Amerika. Rezim Zionis mengarahkan mereka. Mereka bahkan bisa mempunyai perangkat kepolisian sendiri di New York. Ribuan Yahudi di New York bisa membentuk kesatuan polisi mereka sendiri.

Apa pandangan anda mengenai Iran, dan mengenai propaganda AS yang menyebut Iran sebagai negara teroris?

Menurut saya, ini hal yang paling baik. Kalian harus bangga bahwa media-media Zionis, di Amerika Serikat, menyerang kalian. Semakin gencar mereka menyerang kalian, maka itu berarti karena kalian berada pada posisi yang paling baik. Jangan pernah takut kepada orang yang berbicara menyerang kalian tetapi takutlah kepada mereka yang berbicara manis kepada kalian. Tak seorang pun di dunia ini yang pernah membayangkan bahwa Republik Islam (Iran—red) mampu mencapai posisi seperti itu. Masyarakat Iran terlalu cerdas untuk jatuh ke dalam propaganda semacam itu. Dan menurut saya, rakyat Iran cukup cerdas untuk menyadari bahwa propaganda itu adalah alasan pasti untuk berdiri kokoh dan untuk tidak mengharapkan sambutan hangat dari para iblis.

Bagi saya, Republik Islam adalah bangsa yang dipilih Tuhan untuk keadilan dan perdamaian.[irm/mehr news agency]

sholat salah?????

Dalam sebuah acara di Lakpesdam-NU, Hasyim Muzadi bercerita bahwa dirinya dikomplain oleh banyak kalangan agamawan di luar negeri tentang perkembangan kehidupan keberagamaan di Indonesia yang merosot belakangan ini. Ada tokoh Kristen yang bertanya, apakah arti sebenarnya dari slogan-slogan teriakan ?Allahu Akbar? yang dikumandangkan gegap gempita oleh segerombolan orang berpakaian khas Muslim ketika mereka menyerang markas besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Parung, Bogor. Kagetlah hadirin setelah dijelaskan kalimat itu berarti ?Tuhan Mahabesar? karena mereka sebelumnya mengira artinya adalah ?Mampus lu!?. Maka timbul pertanyaan dalam benak hadirin, mengapa aksi perusakan diiringi dengan nama Tuhan yang Mahasuci? Bagaimana bisa?

Di sebuah masjid kampus paling terkenal di kota Bandung pada suatu bulan Ramadhan. Jamaah shalat tarawih yang awalnya membludak drastis menurun di hari-hari berikutnya. Bukan karena evolusi alamiah lazimnya masjid-masjid menjelang akhir Ramadhan melainkan kebijakan pengurus masjid untuk menyajikan bacaan shalat 1 juz per malam. Shalat tarawih yang biasanya hanya memerlukan setengah jam menjadi lebih lama dua kali lipat.
Bagaimanapun, yang pertama-tama patut kita kagumi adalah semangat dan keikhlasan kedua-dua kelompok ?antagonis? di atas. Gerombolan penyerang JAI mempunyai landasan teologis mengapa mereka wajib menyerang sekte tersebut. Mereka tidak ingin agama yang mereka cintai itu dirusak atau disimpangkan oleh orang lain. Perilaku mereka adalah ekspresi cinta Tuhan, ingin mendapatkan pahala supaya beroleh surga di akhirat. Mereka sedih, marah, dan kecewa mengapa penganut Ahmadi itu dapat keluar dari akidah mayoritas Ahlusunah wal jamaah. Dengan menghancurkan markas mereka, diharapkan mereka dapat dibina oleh pembina dan penentu agama Islam yang resmi, Majlis Ulama Indonesia (MUI), sehingga menjadi sadar kembali ke jalan yang benar.
Pengurus masjid kampus tersebut juga mempunyai niat dan semangat yang patut dihargai. Mereka ingin jamaah shalat tarawih merasakan kenikmatan beribadah, tidak lagi menganggap tarawih sebagai pengisi waktu kosong di malam Ramadhan. Mereka ingin mengikuti saudara-saudaranya di Makkah yang membaca 1 juz per malam sehingga di akhir Ramadhan otomatis setiap jamaah telah khatam baca al-Quran. Dengan pahala yang berlipat ganda, maka sedikit lelah dan jauh dari keluarga hendaknya tidak menjadi halangan hadir di tarawih berjamaah ini.
Namun keinginan masyarakat yang berbeda dengan aktivis keagamaan itu juga tidak salah. Batas pengetahuan dan latar sosial yang membuat mereka masuk ke kelompok agama yang, ternyata dianggap sesat, sudah menjadi warisan keluarga adalah lumrah. Atau mereka mempunyai penyaksian spiritual yang lain yang berbeda dengan pemahaman kalangan awam. Di lain tempat, kalangan awam yang mempunyai paham keagamaan pas-pasan memandang bahwa agama tidak boleh malah membuat mereka terpenjara dalam slogan-slogan hukum yang tidak mereka pahami. Pandangan mereka simpel. Apabila orang sepuh, jompo, orang sakit, dan anak kecil terdiskualifikasi secara alamiah dalam barisan shalat tarawih 1 juz, maka ibadah itu salah. Minimal disalahkan oleh orang rumah karena ada anggota keluarganya yang pulang larut malam.
Keinginan beribadah dan menyiarkan ajaran agama yang benar sebagaimana Rasul menurunkannya secara benar ke umat kadang mendapat penolakan di masyarakat intra agama itu sendiri. Umumnya dianggap sebagai kejahiliahan masyarakat, bukan ahli agamanya.
Di wilayah lain, lembaga keyakinan kadang juga berbenturan dengan praktik yang sama yang dilakukan oleh penganut lembaga keyakinan lainnya. Nama Tuhan diperebutkan di berbagai mimbar peribadatan. Perbedaan tafsir tentang siapa hamba Tuhan yang terpilih di kalangan antar agama tak kurang membawa dampak drastis. Bukan sekadar pertempuran wacana di forum-forum ilmiah, melainkan juga penguasaan wilayah publik, monopoli tafsir atas teks suci dan kebijakan negara, sampai kepada penghilangan secara paksa keberadaan lembaga agama yang lain berikut penganutnya, sering disebut sebagai perang agama.
Keinginan luhur tersebut yang, sekali lagi, harus dihargai tesebut, ternyata juga menimbulkan kegelisahan kalangan masyarakat dan tokohnya yang aktivitas ekonominya terganggu. Selama ini relasi ekonomi yang berlaku diserahkan kepada mekanisme pasar. Biarkan konsumen memilih mana yang mereka butuhkan dan sukai. Orang menyebutnya penganut sekularisme. Namun agresivitas aktivis keagamaan membuat aktivitas tersebut tidak lagi netral. Ada hukum-hukum yang berada di luar hitungan ahli ekonomi yang justru mendominasi perputaran barang dan jasa tersebut. Ada halal dan haram yang menaungi setiap transaksi. Akhirnya, semangat wirausaha dan bertahan hidup pupus karena batasan hukum-hukum agama tersebut.
Kalau begini jadinya, mungkin ada yang salah dalam relasi antar kelompok tersebut. Kalau agama yang salah, jelas tidak mungkin. Terlalu banyak dalilnya manusia membutuhkan agama sebagai panduan hidup. Kehadiran majalah ini juga karena etos tersebut. Apabila kesalahan diserahkan kepada penganut non-agama juga terlalu gegabah. Pluralitas adalah keniscayaan. Kesadaran akan kemajemukan yang menjadi sumber dari dialog, demokrasi, dan seluruh struktur bangunan sosial-kemasyarakatan adalah inti dari nilai-nilai kemanusiaan.
Apabila demikian, mungkin kita perlu sedikit merenungi segenap keyakinan kita masing-masing, berikut lembaga dan aksesorinya. Dengan sedikit tenggang rasa dan mengerem nafsu misionaris dan perwartaan (dakwah) kepada orang lain baik yang seiman apalagi yang di luar itu diharapkan akan memunculkan pemaknaan baru tentang ?yang benar? dan ?yang lain?.
Yang benar senantiasa diklaim milik kita sendiri. Jadi, yang benar = kita. Sedangkan yang lain, siapapun mereka, niscaya salah. Yang lain = salah. Dengan demikian, ada makna yang berubah meskipun kita berhadapan dengan teks yang sama, dalam hal ini agama.
Sejak asali orang maklum, pesan suci agama memiliki setidaknya lima relasi besar. Pertama, relasi subjek dengan subjek itu sendiri, yakni dialog privat yang membuat individu merenung lebih dalam tentang hakikat realitas yang kemudian berdampak pada kedamaian dan kepasrahan.
Kedua, relasi subjek dan alam semesta, yakni upaya mencari hikmah dan tanda-tanda kehadiran Tuhan melalui keberadaan alam semesta yang kemudian melahirkan kasih sayang terhadap sesama makhluk.
Ketiga, relasi subjek dan manusia, yakni komunikasi dan dialog sebagai transformasi ide dan klafirikasi kebenaran subjektifnya yang memunculkan sebuah kesadaran kemanusiaan tentang pluralitas dalam wujud berita baik dan kabar gembira.
Keempat, relasi subjek dan sistem masyarakat, yakni ketika individu dan masyarakat akhirnya sepakat melahirkan sistem kemasyarakatan yang berkeadilan sosial-ekonomi sebagai wujud pembumian keadilan Tuhan.
Kelima, relasi subjek dan alam lain, yakni eksternalisasi iman sehingga seluruh entitas makhluk mendapatkan keselamatan. Jadi, tujuan semua agama adalah rahmat bagi semesta (rahmatan lil alamin).
Kelima hal tersebut tidak bertentangan dengan pondasi umum Islam. Secara generik Islam hanya mengandung dua hal saja: tauhid (monoteisme) dan ketundukan dan kepasrahan (taslim). Dalam berbagai telaah historis, menurut sejarawan agama Ibrahimik, diketemukan bahwa sesungguhnya monoteisme murni hanya ada di Islam. Namun konsep ini tidak selesai sebelum internalisasi iman dalam kepasrahan yang bisa diperoleh setiap manusia. Konflik hermeneutis, meminjam Paul Ricouer, dapat dijembatani dengan dialog dan bukan ghibah. Sehingga, ucapan ?inna al-dina inda Allahi al-Islam? adalah juga berlaku untuk semua umat beriman yang benar-benar memasrahkan diri kepada Tuhannya, beriman kepada hari akhir dan beramal saleh (QS. Al-Baqarah [2]:62).
Dalam kerangka sesama penganut Islam, kita mungkin dapat merujuk Cak Nur tentang pentingnya memahami relativisme internal, Ibn Taymiyyah menyebutnya sebagai prinsip yang agung (ashl azhim), bagi sesama umat Islam dengan senantiasa mendahulukan baik sangka (husnudzan) daripada buruk sangka (suudzan) demi terwujudnya persaudaraan berdasar iman (ukhuwah Islamiyyah). Semua dalam kerangka menyebarkan keraguan yang sehat (healthy scepticism) atau hikmat keraguan (benefit of doubt), sebagaimana dalam al-Quran ?Wahai sekalian orang-orang yang beriman, janganlah ada suatu kaum di antara kamu yang memandang rendah kaum yang lain, kalau-kalau mereka yang dipandang rendah itu lebih baik daripada mereka yang memandang rendah?? (QS Al-Hujurat [49]: 11).
Takwa adalah kesadaran ketuhanan (God-consciousness) tentang Tuhan Yang Mahahadir (Omnipresent). Dalam perpsektif A. Yusuf Ali, konsep ini dikerucutkan dari empat manifestasi takwa: 1) Keimanan yang sejati dan murni; 2) Pancaran iman dalam bentuk tindak kemanusiaan kepada sesama; 3) Berwarga negara yang baik dan mendukung sendi-sendi kehidupan kemasyarakatan; 4) Jiwa pribadi yang teguh (hal 44).
Di sini, tidak ada diskusi mengapa harus Islam karena semua agama juga berlaku sama. Untuk memahami makna dan tujuan hidup hanya dapat ditopang oleh hati nurani yang tulus dengan senantiasa menyucikan kalbu, hakikat diri yang paling pribadi yang senantiasa bergantung kepada Tuhan YME.

Islam dan Yang Lain
Tiada yang tak sepakat dengan konsep ini tersebut di atas. Namun kemudian berbeda ketika terejawantahkan dalam klaim egoistik ?karena semua ini benar, semua ini milik kami?.
Immanuel Kant mengungkapkan, ?faith starts when reason stops?. Maka relasi antar umat beriman adalah menyebarkan semangat kemanusiaan dalam pondasi beriman kepada Tuhan Yang Mahaesa. Tidak boleh ada paksaan dalam agama karena setiap manusia sebenarnya mengetahui mana yang hak dan yang batil (hal 86). Pengetahuan hudhuri tentang yang batil ditandai dengan semangat uniformitas, upaya memaksakan setiap keragaman dan pluralitas manusia dalam satu wadah. Ini contradiction in terminis.
Relativisme internal akan mengarah kepada relativisme eksternal bahwa sesama pencinta kebenaran tidak akan saling menyalip, tidak saling berebut kasih Tuhan karena rebutan adalah tanda tak ada kasih. Penghayatan yang mendalam di setiap umat dalam semangat kepasrahan dan ketundukan akan mengerucut pada titik pertemuan universal (Kalimatun sawa/common platform) yang menjadi agenda besar kemanusiaan. Relasi antar kaum beriman yang menyeluruh tidak boleh dibatasi sebuah nilai yang eksklusif melalui demitologisasi sehingga tidak memunculkan kesombongan fanatis dari setiap kelompok. Islam adalah agama amicital yang anti sakramentalisme.
Maka, melihat perjalanan sejarah hitam Islam, adalah sesuatu yang wajar dan profan, dan bukan representasi ajaran Islam itu sendiri. Kesenjangan antar umat beriman dan pendangkalan firman Tuhan terjadi di banyak agama ketika mereka diposisikan menjadi sentra pesan langit tanpa sebuah pemahaman sosiologis bahwa ketika sebuah pesan suci dibumikan maka spasio-temporal telah mendegradasikan nilai-nilai langit tersebut sehingga sangat mungkin multi-interpretatif. Disinilah diperlukan kearifan yang lebih luas dari sekadar pengakuan kepada Tuhan dan ajaran-Nya dalam bentuk toleransi kepada setiap lembaga keagamaan sehingga tercipta kerjasama kemasyarakatan yang merupakan hahikat kemanusiaan sebagai makhluk sosial.

Merayakan Kemajemukan
Setiap perayaan membutuhkan biaya. Perayaan yang berhubungan dengan harkat hidup dan nilai kemanusiaan tentu mempunyai biaya sosial yang lumayan tinggi juga. Robert N Bellah dan Casanova mengatakan bahwa agama mempunyai sifat publik (civic) yang penuh dimensi inklusivitas, universalitas, dan transendental; dan bukan tidak mempribadi (deprivatized) yang penuh ruah eksklusivitas, partikularitas, primordialitas
Maka bagaimana kita ingin mengagungkan lembaga keyakinan kita adalah justru dengan bagaimana kita menghadirkan jiwa kita dalam komunitas lain. Paling tidak terdapat beberapa hal mendasar yang perlu dilakukan. Yang pertama adalah penghargaan terhadap eksistensi komunitas lain sehingga kita akan dihargai oleh kalangan lain. Apabila masih belum bisa menjangkau wilayah tersebut, akuilah dan hargailah kehadiran mereka di dunia sebagai sesama makhluk Tuhan.
Kedua adalah memunculkan kepedulian yang tulus terhadap segala kesusahan dan penderitaan mereka sehingga makhluk lain pun akan peduli dengan segala kesusahan kita. Apabila masih susah dijalani, maka setidaknya kita hendaknya memunculkan rasa bersalah dan harapan kepada mereka yang tertindas.
Ketiga, bekerjasama dalam berbagai masalah kemanusiaan karena tiada manusia yang dapat hidup tanpa masyarakat dan menolong setiap usaha mereka karena suatu saat kita niscaya membutuhkan pertolongan orang lain. Apabila masih sukar dilakoni, anggaplah ini sebagai muamalah biasa tanpa tendensi dan sangkaan.
Kesenjangan antar masyarakat diyakini akan berkurang dan berakhir pabila telah terbentuk masyarakat etika yang sadar hukum dan memperjuangkan keadilan. Sekularisasi, bukan sekulerisme sebagai paham, adalah sebuah keniscayaan tentang realitas plural ini.
Namun, kesadaran tentang basis kultural turut menentukan setiap langkah setruktural ketika struktur tersebut dipahami sebagai upaya mengatur disiplin warga dalam seperangkat undang-undang. Dalam perspektif inilah sosialisasi ajaran-ajaran pluralis tidak boleh berhenti pada forum-forum elitis, melainkan harus membumi dan merembes ke tingkat akar rumput (grassroot). Selama ini awam maklum bahwa pelaku tindakan kekerasan terhadap/atas nama agama justru dilakukan oleh kalangan menengah-bawah, terutama generasi muda.
Maka klaim kebenaran mestikah Islam, dan juga agama lain, sebagai lembaga keyakinan yang paling benar layak untuk diteliti tanda kadaluarsanya (expire date). Sebagai alat mobilisasi untuk menjalankan amar maruf nahi munkar, agama tidak boleh berhenti menjadi kelompok etnis. Sebagai sistem nilai, internalisasi tidak boleh berhenti di tataran elit (tokoh agama dan/atau pimpinan parpol) karena cenderung terkapling pada kepentingan (vested interest) dalam negosiasi retoris. Masyarakat etis yang sesungguhnya adalah MASYARAKAT UNIVERSAL yang sudah meLINTAS (passing-over) dalam keranda AGAMA formal karena penghambaannya kepada MAULA-nya, Gusti Nu Agung.

Statistik Pemeluk Agama di Dunia

ImageMasyarakat yang tidak beragama berada pada peringkat ketiga dengan jumlah persentase 16 persen dari keseluruhan penduduk dunia. Yang menarik adalah setengah dari kelompok ini percaya kepada Tuhan namun tidak mengikuti agama tertentu. Agama Yahudi yang jumlah pemeluknya memiliki persentase 0,22 % dari jumlah penduduk dunia berada pada peringkat terakhir dalam daftar agama-agama resmi dunia. Walaupun di barat gereja-gereja yang tinggi menjulang banyak dibangun untuk menyebarluaskan ajaran-ajaran Kristiani, namun saat ini perkembangan agama Islamlah yang mengalami kemajuan pesat dan perselisihan serta perbedaan yang ada di tengah umat Islam pun semakin berkurang dibanding dengan agama-agama lain. Dengan mengingat segala permasalahan ekonomi dan berbagai problem lainnya yang terjadi pada negara-negara Islam, agama ini mampu berada pada peringkat kedua dalam daftar agama dengan jumlah penganut terbanyak.

Berdasarkan laporan situs Baztab Iran, hasil survei memperlihatkan agama Kristen menguasai 33 persen masyarakat dunia namun mereka mengalami perpecahan yang lebih besar dan lebih prinsipal dibanding agama-agama lainnya.

Agama Kristen sekarang terpecah menjadi berbagai macam aliran yang berbeda-beda seperti Katolik, Protestan, Ortodoks timur, Anglikan, Evangelis, Pantekosta dan lain sebagainya.

Islam yang dipeluk oleh sekitar 21 persen dari penduduk dunia termasuk Suni, Syi’ah dan beberapa mazhab lainnya menempati agama kedua dengan penganut terbanyak setelah agama Kristen.

Orang-orang yang tidak beragama berada pada peringkat ketiga dengan persentase 16 persen dari jumlah penduduk dunia, termasuk di antaranya mereka yang tidak percaya kepada Tuhan, orang-orang sekuler dan yang menyembunyikan keyakinannya. Yang menarik adalah setengah dari mereka ternyata percaya kepada Tuhan walaupun tidak meyakini agama mana pun.

Agama Hindu berada pada peringkat keempat dengan jumlah pengikut sebanyak 14 persen dari jumlah penduduk dunia. Diikuti agama Buddha, agama tradisional Cina dan kepercayaan-kepercayaan tradisional masyarakat Afrika yang masing-masing memiliki jumlah persentase sebanyak 6 persen.

Agama Sikh dengan 0,36 persen komunitasnya menempati peringkat berikutnya dan Yahudi ternyata menempati peringkat paling akhir dari daftar agama-agama dunia menurut jumlah pengikutnya.